Cutting Edge Research

Minggu kemarin saya bertemu salah satu Postdoc yang menunjukkan cara kerja Computed Tomography (CT) Scan untuk memindai interior material secara 3 dimensi. Karena material yang saya pelajari khususnya adalah paduan super nikel untuk mesin pesawat terbang, saya diajarkan cara memindai dan menghitung kandungan karbida di dalamnya. Namun karena nikel punya densitas yang sangat tinggi, maka kemampuan alat CT scan nya cuma bisa memindai maksimum 1mm x 1mm x 1mm. Bahkan untuk memindai spesimen sekecil itupun alatnya butuh waktu 14 jam. Jadi untuk satu spesimen penuh sebesar batang korek api, waktu pindai bisa lebih dari 3 hari. Tapi memang the pain is worth the gain. Hasil pencitraan yang dilihat benar2 detail dan keren. Kita bisa lihat mulai dari permukaan material, kemudian seakan-akan kita bisa menyelam ke dalam interior material sambil melihat pamandangan karbida yang bentuknya mirip batu karang di kanan-kiri. Kemudian menghitung fraksi volume karbidanya pun benar-benar detail per section dan kemudian bisa dirata-rata. Grup kami juga berhasil memindai permukaan atas dan bawah rambatan retak fatik di nikel dan kemudian dari hasil pindain 3D tersebut dicetak menggunakan 3D printer. Dari yang tadinya volume material yang mengandung rambatan retak cuma sebesar hitungan mikron kubik, dicetak menjadi ukuran balok dengan potongan melintang sekitar 30 cm x 30 cm. Dulu, permukaan retak mikro hanya bisa dinikmati secara virtual melalui foto 2 dimensi, sekarang bisa dinikmati secara 3 dimensi, bisa diamati, dan dirasakan teksturnya secara riil.

Selain material teknik, lab CT-Scan di sini banyak juga memindai fosil-fosil dinosaurus seperti Pliosaurus yang disebut artikel ini sebagai ‘Teroris Laut’ 150 juta tahu yang lalu. Fosil semacam ini tentu sangat tidak memungkinkan untuk dipotong-potong demi dianalisis organ dalamnya seperti halnya spesimen material nikel yang bisa dibuat lagi berulang-ulang di pabrik kalau rusak. Jadi kehadiran CT Scan sangat berarti bagi ilmu paleontology.

Jelas sekali fasilitas riset seperti ini bisa menunjang banyak rumpun keilmuan, tapi sayang sepertinya di Indonesia CT Scan baru ada di fasilitas kesehatan. Tapi memang biayanya super duper mahal dan sulit. Southampton sendiri berinvestasi sekitar £3juta (Rp 60 Milyar) dengan 40 orang ilmuwan yang terlibat dalam pengembangannya. Saat ini saya, 2 supervisor saya, dan 2 postdoc, sedang berusaha untuk terus mendorong pencitraan yang tadinya hanya bersifat kualitatif menjadi sesuatu yang bisa lebih terukur secara mekanik dan ‘full-field’. Mode pencitraan yang saat ini saya gunakan adalah Scanning Elctron Microscope dan akan melangkah ke CT. Tapi memang proses ‘pushing the boundary’ ini kita tidak tahu kapan dia akan benar-benar mentok.

Beberapa hari yang lalu juga saya datang ke seminar seorang peneliti dari University of Sheffield. Beliau juga menggunakan CT Scan dalam risetnya untuk menguji mekanika tulang yang terkena osteoporosis. Saat ini, pengujian yang dia lakukan masih menggunakan tikus. Jadi beliau memberikan obat-obatan yang mempengaruhi kondisi tulang si tikus dan kemudian si tikus dibius dan diletakkan di dalam alat CT. Pengujian mekanika tulang dilakukan dengan cara meregangkan kaki tikus perlahan-lahan sambil dilakukan pemindain 3D. Hasil pemindaian tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode Digital Volume Correlation. Sayang sekali sinyal yang dihasilkan masih sangat ‘Noisy’.

Saat ini kebanyakan memang alat CT digunakan untuk analisis biomaterial semacam tulang, jaringan lunak, tumbuhan, dan hewan. Sedangkan untuk studi bahan logam masih sangat sedikit karena keterbatasan penetrasi radiasi. Selain itu untuk memotong logam menjadi dimensi 1mm bukanlah hal yang mudah. Alat potong yang digunakan untuk hasil setipis ini sama dengan alat potong kornea mata yang digunakan saat operasi LASIK.

Saya sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah para ilmuwan yang sangat antusias dengan riset mereka. Semoga suatu saat di Indonesia juga ada fasilitas riset seperti di sini dan bisa melahirkan banyak ilmuwan yang risetnya tergolong ‘cutting edge’. Amin Ya Rabb.

Advertisements

Challenging Fear

Kemarin hari Selasa sekitar jam 7 malam saya masih di kantor, nangis sendirian di meja kerja saya. Kenapa saya nangis? Karena perasaan saya udah campur-campur gak karuan lantaran masalah jadwal presentasi yang carut marut. Pertama saya kesel sama salah satu dosen yang ngurusin jadwal presentasi rutin di riset grup saya. Intinya dosen ini bener-bener gak beres ngurus jadwalnya. Tiba-tiba dia kemarin jam setengah 7 malem minta saya buat presentasi hari Rabu ini di depan satu riset grup saya. Kesel banget kan kalo ada pemberitahuan mendadak gitu. Terus supervisor saya juga gak baca email saya yang minta bimbingan sebelum presentasi. Akhirnya waktu kemarin malem beliau tahu saya mesti maju presentasi hari ini, beliau kirim email menawarkan buat bimbingan Rabu pagi tadi. Udah gitu, tambah frustasi lagi waktu tahu saya harus maju presentasi bareng siapa sore ini.

seminar invitation

Continue reading

Adakah yang Lebih Islami dari Orang Islam?

Saya mau memfollow up dari cerita terakhir saya di blog tentang rapat bareng beberapa institusi di luar Southampton. Ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini tapi bukan tentang konten rapatnya, karena itu highly classified. 😀

Waktu saya menerima undangan rapat itu, saya resah karena saya gak punya sepatu formal. Saya ke kampus sukanya pake sepatu kanvas teplek yang udah buluk harganya cuma 140 ribuan. Saya bingung banget mau beli sepatu yang kaya gimana. Pengen gitu pake sepatu yang ada haknya 7 cm, tapi takut ngejeblak. Terus beberapa hari sebelum rapat itu, saya ketemu supervisor saya yang perempuan. Terus saya liatin sepatunya dan saya foto diem-diem. Continue reading

Di Penghujung Satu Tahun…

Minggu ini bener-bener jadi minggu yg hectic buat saya. Kenapa? Karena saya mau menjalani sidang tahun pertama program PhD saya. Sebenernya gak 1 tahun juga sih, istilah administratifnya laporan 9 bulan gitu. Nanti di tahun kedua ada sidang lagi, namanya laporan 18 bulan, dan terakhir sidang tesis PhD waktu 36 bulan, a.k.a 3 tahun.

PhD itu gak ada ujian tertulisnya kalo di UK, cuma ada istilah lulus dan gak lulus. Rasanya kok kaya gampang banget ya? Malah lebih susah S1 gitu? Eeeehhh, jangan salah! Ujian di PhD ini sistemnya bukan kaya S1 atau S2 yang sit in di kelas, ngerjain tugas kelompok, praktikum lab sama senior, dan terakhir ada UTS dan UAS.

Jadi, seperti yg saya bilang di awal. ujian PhD yang ada di kampus itu umumnya berupa ujian oral, alias ujian presentasi dan tanya jawab perorangan. Kalo di tempat saya ada 3x ujian selama 3 tahun masa rentang normal PhD, 9 bulan, 18 bulan, dan 36 bulan. Seorang mahasiswa bisa saja terleminasi di ujian 9 bulan, 18 bulan, dan juga 36 bulan. Terus selain ujian resmi dari kampus, mahasiswa PhD juga wajib ikut konferensi ilmiah. Rata2 seorang mahasiswa bisa ikut konferensi antara 2-5 kali mungkin. Tambahan lagi, mahasiswa PhD juga harus menerbitkan jurnal internasional, mungkin kisaran 1-4 kali selama PhD. Continue reading

Saya Juga Harus Menderita..

Beberapa hal yang membuat saya bahagia adalah :

  1. Ketika saya berada di tengah orang-orang positif yang membicarakan hal-hal yang menstimulus intelektualitas saya.
  2. Ketika saya bisa melakukan sesuatu yang sulit yang sebelumnya saya tidak bisa lakukan dimana untuk menguasai hal tersebut membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.
  3. Mencapai sesuatu yang hanya sedikit orang bisa meraih itu.

Selain 3 hal tersebut, mungkin bisa berkumpul bersama keluarga dan makan dim sum adalah aktivitas yang bikin saya bersuka cita. Pada kesempatan ini saya hanya akan bercerita tentang hal-hal yang membuat saya bahagia di awal. Saya tidak yakin pengalaman saya makan dim sum yang enak akan berpengaruh untuk orang lain. Hehe.

Tulisan ini akan diawali dengan aktivitas saya setiap hari Kamis jam 3-4 sore dimana saya harus mengajukan progress report ke kedua supervisor saya di sini, Prof P dan Prof R. Karena hal tersebut, setiap hari Senin pagi sampai hari Kamis siang saya pasti mengalami gejala stres kalau saya belum bisa menyelesaikan PR yang mereka ajukan di pertemuan sebelumnya. Anehnya selama 7 bulan ini, setelah Hari Kamis jam 4 sore saya biasanya selalu tersenyum lebar. Saya selalu merasa bahagia setiap Kamis jam 4 sore karena saya selalu mendapati diri saya berada di tengah diskusi dengan sehat dan dalam suasana yang menyenangkan.

Seperti kemarin sore, saya berada di ruangan Prof R untuk rapat mingguan dengan Prof P dan satu mahasiswa Post Doc, namanya Rong. Di awal saja sudah menyenangkan karena rapat itu lebih mirip seperti family gathering. Rong dengan sigap mengambilkan air panas dan membuatkan kopi untuk Prof P dan Prof R. Waktu semua orang lagi sibuk menyiapkan rapat, saya tanya “What should I do, Prof?” dan Prof R malah bilang,”You… Sit…” 😀 Continue reading

My Wonderful Life

lab semGambar 1. Eksperimen di Laboratorium Scanning Electron Microscopy, University of Southampton.

Di saat saya melihat temen-temen perempuan saya sudah bisa memegang tangan suaminya, saya masih hanya bisa memegang obeng.

Di saat teman-teman saya sudah menggendong bayi, saya masih harus menggendong tangki nitrogen cair yang beratnya minta ampun.

Di saat teman-teman saya sudah berjalan-jalan melihat pemandangan indah saat bulan madu, saya masih terus memandangi butiran partikel logam di layar komputer. Continue reading

Recent Economic and Financial Indicators Report

Dear para WNI dimanapun Anda berada,

Saya lampirkan laporan ekonomi dan finansial negara-negara di berbagai belahan dunia. Tabel ini diambil dari majalah The Economist edisi cetak di Inggris tanggal 18 April 2015. The Economist adalah salah satu majalah berbasis ekonomi dan bisnis yang berkualitas di Inggris. Dengan harga per eksemplar Rp 100ribu, itu berarti dalam satu semester harga subscription-nya mencapai Rp 2,6 juta dan saya yakin nilai ini sama atau lebih mahal dari rata-rata biaya SPP per semester universitas negeri di Indonesia. Jadi, majalah ini gak level sama facebooknya Jonru atau website-website murahan yang dibuat berdasarkan pesanan orang. Majalah ini diperuntukkan untuk para eksekutif, pemerintah, atau organisasi internasional, bukan anak-anak kemarin sore yang bacaan sehari-harinya semacam “Udah Putusin Aja” atau buku-buku risalah pergerakan islami, atau malah 9gag.

the economist

Gambar 1. Economic and financial Indicators of several countries (Gambar hasil Scan)

Karena saya sekarang akan membicarakan mengenai kondisi umum Indonesia, maka saya pikir referensi tabel dari The Economist ini memenuhi 4 syarat utama dari sebuah literatur akademis, yakni: Relevan, Akurat, Terbaru, serta Dapat Dipercaya. Oya, ini beneran dari The Economist ya, bukan dari Wall Street Journal apalagi The Jakarta Globe. Saya gak diseleksia, apalagi buta huruf. Continue reading

Cerita tentang Dunia Riset

Dulu waktu saya SD, SMP, dan SMA, saya selalu dapet rangking 3 besar di sekolah. Malahan pas SMP saya selalu rangking 1 paralel (kecuali semester 6, saya rangking 2 paralel). Kalo waktu SMA sebenernya udah gak ada peringkat yang dipampang di buku rapor, cuma waktu itu saya boleh ikut PPKB Universitas Indonesia yang notabene hanya boleh diikuti oleh anak-anak top rank paralel di sekolah karena jumlah undangan yang sangat sedikit.

Saya itu gak dapet rangking cuma pas TK. Kenapa demikian? Jawabannya simpel. Karena saya dulu gak sekolah TK! Kenapa saya gak sekolah TK? Saya juga gak tau kenapa. Dulu waktu umur 4 tahun mana saya paham tentang arti penting pendidikan, jadi saya mah manut-manut aja gak disekolahin TK sama orang tua saya.. Saya pernah ngomong sama orang tua saya. “Ibu, kalo aku dulu sekolah TK mungkin aku sekarang kuliahnya di Harvard. Bwehehe..”

Kembali ke topik yang sesuai judul saya di atas. Jadi dulu waktu SD, rangking itu ditentukan dari jumlah nilai kita dari semua ujian dan tugas selama belajar 1 tahun di kelas dengan kurikulum yang telah ditentukan. Nilai akumulasi ini kemudian dbandingkan dengan semua murid di kelas dan muncullah siapa yang menduduki peringkat 1, 2, 3 dan seterusnya. Bytheway, biasanya siswa-siswa sebuah SD itu bertempat tinggal dari lokasi yang berdekatan dengan sekolahnya, paling beda kelurahan tapi masih dalam satu kecamatan. Jadi, kompetisi kecil-kecilan antara 45 siswa ini berada pada level kecamatan. Continue reading

Mau Kerja DImana?

Kemarin baru aja liat Music Video nya Girls Generation yang terbaru, judulnya Catch Me If You Can. Emang dari dulu aku suka sama SNSD, soalnya cantik cantik. Meski tahu itu fake karena banyak bumbunya, mulai dari operasi plastik tambah make up tambah fashion tambah videografi profesional. Whatever it is, we buy it!

Setelah liat video itu, aku beneran pengen tahu seberapa besar sebenernya SM Entertainment. Dalam dada ada gejolak khawatir kalo ternyata perusahaan musik K-POP terbesar di Korea ini bisa nyalip perusahaan-perusahaan industri berbasis teknologi besar kaya Schlumberger dan Boeing. AKhirnya iseng nyari berapa total revenue dan profit dari beberapa perusahaan yang berlandaskan seni dengan beberapa perusahaan yang mengunggulkan teknologi. Dan inilah hasilnya. Taraaa….

BOEING FERRARI LVMH WALT DISNEY PROFIT AND REVENUE

Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari sini? Well, agak susah sebenernya. Aku gak bisa dapet data yang setidak-tidaknya rata-rata profit 5 tahun terakhir. Itu data diambil dari berbagai sumber dan masing-masing didapat pada tahun fiskal 2013 dan 2014. Sebenarnya kalau kita mau menilai value riil dari sebuah perusahaan pasti sulit karena ada parameter seperti nilai aset, hutang, jumlah karyawan, wilayah kerja, dsb yang harus ikut diperhitungkan. Jadi, penilaian kali ini benar-benar hanya dari total revenue dan profit murni. Continue reading