Di Penghujung Satu Tahun…

Minggu ini bener-bener jadi minggu yg hectic buat saya. Kenapa? Karena saya mau menjalani sidang tahun pertama program PhD saya. Sebenernya gak 1 tahun juga sih, istilah administratifnya laporan 9 bulan gitu. Nanti di tahun kedua ada sidang lagi, namanya laporan 18 bulan, dan terakhir sidang tesis PhD waktu 36 bulan, a.k.a 3 tahun.

PhD itu gak ada ujian tertulisnya kalo di UK, cuma ada istilah lulus dan gak lulus. Rasanya kok kaya gampang banget ya? Malah lebih susah S1 gitu? Eeeehhh, jangan salah! Ujian di PhD ini sistemnya bukan kaya S1 atau S2 yang sit in di kelas, ngerjain tugas kelompok, praktikum lab sama senior, dan terakhir ada UTS dan UAS.

Jadi, seperti yg saya bilang di awal. ujian PhD yang ada di kampus itu umumnya berupa ujian oral, alias ujian presentasi dan tanya jawab perorangan. Kalo di tempat saya ada 3x ujian selama 3 tahun masa rentang normal PhD, 9 bulan, 18 bulan, dan 36 bulan. Seorang mahasiswa bisa saja terleminasi di ujian 9 bulan, 18 bulan, dan juga 36 bulan. Terus selain ujian resmi dari kampus, mahasiswa PhD juga wajib ikut konferensi ilmiah. Rata2 seorang mahasiswa bisa ikut konferensi antara 2-5 kali mungkin. Tambahan lagi, mahasiswa PhD juga harus menerbitkan jurnal internasional, mungkin kisaran 1-4 kali selama PhD. Continue reading

Saya Juga Harus Menderita..

Beberapa hal yang membuat saya bahagia adalah :

  1. Ketika saya berada di tengah orang-orang positif yang membicarakan hal-hal yang menstimulus intelektualitas saya.
  2. Ketika saya bisa melakukan sesuatu yang sulit yang sebelumnya saya tidak bisa lakukan dimana untuk menguasai hal tersebut membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.
  3. Mencapai sesuatu yang hanya sedikit orang bisa meraih itu.

Selain 3 hal tersebut, mungkin bisa berkumpul bersama keluarga dan makan dim sum adalah aktivitas yang bikin saya bersuka cita. Pada kesempatan ini saya hanya akan bercerita tentang hal-hal yang membuat saya bahagia di awal. Saya tidak yakin pengalaman saya makan dim sum yang enak akan berpengaruh untuk orang lain. Hehe.

Tulisan ini akan diawali dengan aktivitas saya setiap hari Kamis jam 3-4 sore dimana saya harus mengajukan progress report ke kedua supervisor saya di sini, Prof P dan Prof R. Karena hal tersebut, setiap hari Senin pagi sampai hari Kamis siang saya pasti mengalami gejala stres kalau saya belum bisa menyelesaikan PR yang mereka ajukan di pertemuan sebelumnya. Anehnya selama 7 bulan ini, setelah Hari Kamis jam 4 sore saya biasanya selalu tersenyum lebar. Saya selalu merasa bahagia setiap Kamis jam 4 sore karena saya selalu mendapati diri saya berada di tengah diskusi dengan sehat dan dalam suasana yang menyenangkan.

Seperti kemarin sore, saya berada di ruangan Prof R untuk rapat mingguan dengan Prof P dan satu mahasiswa Post Doc, namanya Rong. Di awal saja sudah menyenangkan karena rapat itu lebih mirip seperti family gathering. Rong dengan sigap mengambilkan air panas dan membuatkan kopi untuk Prof P dan Prof R. Waktu semua orang lagi sibuk menyiapkan rapat, saya tanya “What should I do, Prof?” dan Prof R malah bilang,”You… Sit…” 😀 Continue reading

My Wonderful Life

lab semGambar 1. Eksperimen di Laboratorium Scanning Electron Microscopy, University of Southampton.

Di saat saya melihat temen-temen perempuan saya sudah bisa memegang tangan suaminya, saya masih hanya bisa memegang obeng.

Di saat teman-teman saya sudah menggendong bayi, saya masih harus menggendong tangki nitrogen cair yang beratnya minta ampun.

Di saat teman-teman saya sudah berjalan-jalan melihat pemandangan indah saat bulan madu, saya masih terus memandangi butiran partikel logam di layar komputer. Continue reading

Recent Economic and Financial Indicators Report

Dear para WNI dimanapun Anda berada,

Saya lampirkan laporan ekonomi dan finansial negara-negara di berbagai belahan dunia. Tabel ini diambil dari majalah The Economist edisi cetak di Inggris tanggal 18 April 2015. The Economist adalah salah satu majalah berbasis ekonomi dan bisnis yang berkualitas di Inggris. Dengan harga per eksemplar Rp 100ribu, itu berarti dalam satu semester harga subscription-nya mencapai Rp 2,6 juta dan saya yakin nilai ini sama atau lebih mahal dari rata-rata biaya SPP per semester universitas negeri di Indonesia. Jadi, majalah ini gak level sama facebooknya Jonru atau website-website murahan yang dibuat berdasarkan pesanan orang. Majalah ini diperuntukkan untuk para eksekutif, pemerintah, atau organisasi internasional, bukan anak-anak kemarin sore yang bacaan sehari-harinya semacam “Udah Putusin Aja” atau buku-buku risalah pergerakan islami, atau malah 9gag.

the economist

Gambar 1. Economic and financial Indicators of several countries (Gambar hasil Scan)

Karena saya sekarang akan membicarakan mengenai kondisi umum Indonesia, maka saya pikir referensi tabel dari The Economist ini memenuhi 4 syarat utama dari sebuah literatur akademis, yakni: Relevan, Akurat, Terbaru, serta Dapat Dipercaya. Oya, ini beneran dari The Economist ya, bukan dari Wall Street Journal apalagi The Jakarta Globe. Saya gak diseleksia, apalagi buta huruf. Continue reading

Cerita tentang Dunia Riset

Dulu waktu saya SD, SMP, dan SMA, saya selalu dapet rangking 3 besar di sekolah. Malahan pas SMP saya selalu rangking 1 paralel (kecuali semester 6, saya rangking 2 paralel). Kalo waktu SMA sebenernya udah gak ada peringkat yang dipampang di buku rapor, cuma waktu itu saya boleh ikut PPKB Universitas Indonesia yang notabene hanya boleh diikuti oleh anak-anak top rank paralel di sekolah karena jumlah undangan yang sangat sedikit.

Saya itu gak dapet rangking cuma pas TK. Kenapa demikian? Jawabannya simpel. Karena saya dulu gak sekolah TK! Kenapa saya gak sekolah TK? Saya juga gak tau kenapa. Dulu waktu umur 4 tahun mana saya paham tentang arti penting pendidikan, jadi saya mah manut-manut aja gak disekolahin TK sama orang tua saya.. Saya pernah ngomong sama orang tua saya. “Ibu, kalo aku dulu sekolah TK mungkin aku sekarang kuliahnya di Harvard. Bwehehe..”

Kembali ke topik yang sesuai judul saya di atas. Jadi dulu waktu SD, rangking itu ditentukan dari jumlah nilai kita dari semua ujian dan tugas selama belajar 1 tahun di kelas dengan kurikulum yang telah ditentukan. Nilai akumulasi ini kemudian dbandingkan dengan semua murid di kelas dan muncullah siapa yang menduduki peringkat 1, 2, 3 dan seterusnya. Bytheway, biasanya siswa-siswa sebuah SD itu bertempat tinggal dari lokasi yang berdekatan dengan sekolahnya, paling beda kelurahan tapi masih dalam satu kecamatan. Jadi, kompetisi kecil-kecilan antara 45 siswa ini berada pada level kecamatan. Continue reading

Mau Kerja DImana?

Kemarin baru aja liat Music Video nya Girls Generation yang terbaru, judulnya Catch Me If You Can. Emang dari dulu aku suka sama SNSD, soalnya cantik cantik. Meski tahu itu fake karena banyak bumbunya, mulai dari operasi plastik tambah make up tambah fashion tambah videografi profesional. Whatever it is, we buy it!

Setelah liat video itu, aku beneran pengen tahu seberapa besar sebenernya SM Entertainment. Dalam dada ada gejolak khawatir kalo ternyata perusahaan musik K-POP terbesar di Korea ini bisa nyalip perusahaan-perusahaan industri berbasis teknologi besar kaya Schlumberger dan Boeing. AKhirnya iseng nyari berapa total revenue dan profit dari beberapa perusahaan yang berlandaskan seni dengan beberapa perusahaan yang mengunggulkan teknologi. Dan inilah hasilnya. Taraaa….

BOEING FERRARI LVMH WALT DISNEY PROFIT AND REVENUE

Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari sini? Well, agak susah sebenernya. Aku gak bisa dapet data yang setidak-tidaknya rata-rata profit 5 tahun terakhir. Itu data diambil dari berbagai sumber dan masing-masing didapat pada tahun fiskal 2013 dan 2014. Sebenarnya kalau kita mau menilai value riil dari sebuah perusahaan pasti sulit karena ada parameter seperti nilai aset, hutang, jumlah karyawan, wilayah kerja, dsb yang harus ikut diperhitungkan. Jadi, penilaian kali ini benar-benar hanya dari total revenue dan profit murni. Continue reading

Anak UI Cantik

Aku baru bikin akun instagram kemarin.. Hhh.. Telat pisan ya… Btw, satu akun yang awal-awal aku follow adalah akun @anakuicantik. Gile ya anak UI, cakep-cakep banget!

ANAKUICANTIKFoto 1. Kumpulan foto intagram anakuicantik. Beberapa ada yang jadi model, pemain sinetron, artis, Putri Indonesia, dll.

Gara-gara liat IG itu, aku jadi nostalgia ke masa lalu. Dulu waktu S1, style-ku enggak banget deh. Bisa dibilang parah gitu gara-gara keseringan pake gamis, rok, berkaos kaki kemana-mana. Maka dari itu kayanya gak bakalan kalo modal wajah kaya aku ini bisa dimasukin ke instagram macem anakanakcantik itu. Continue reading

Diary Bolang : Berkelana ke Belgia

Aaaaa! Akhirnya saya nyampe juga di Southampton dan bakal mulai settle dengan kegiatan riset yang sebenar-benarnya di sini. Waktu bersenang-senang sudah habis dan ini waktunyA untuk bekerja keras. Kegiatan 3 bulan awal itu cuma semacam induction months dimana saya mulai mengenal segala sesuatunya di sini. Kemudian saya dapat jatah libur sekitar 3,5 minggu ke Indonesia. Saya kemarin balik ke Southampton tanggal 6 Januari 2015, terus tanggal 11 Januari 2015 saya sudah harus pergi lagi ke Belgia buat training.

Selama rentang 5 hari itu sebenernya saya belum pulih dari Jetlag. Saya juga masih capek banget karena kegiatan di Indonesia bener-bener full. Saya mesti ngurus beberapa hal di Pekalongan, Depok, dan Lampung. Tapi karena saya sudah terlanjur dibayarin Profesor saya untuk pergi ke Belgia, yasudah mau gimana lagi. Kalau saya boleh nawar sih saya bakal minta acaranya diundur 1 minggu, hehe..

Dari awal keadaan fisik yang begitu letoy, saya denger ada kabar Charlie Hebdo yang heboh baget itu di TV. Sebenernya saya sudah ada rencana untuk pergi ke Paris setelah pulang dari Belgia, tapi akhirnya rencana itu saya batalkan gara-gara banyak demonstrasi di Paris. Saya agak was-was juga kalo sampe terjadi sesuatu dengan saya. Jadi ke-letoy-an saya tambah parah dengan itinerary saya yang jadi berantakan di detik-detik akhir keberangkatan.

Nonetheless, banyak hal-hal yang menyenangkan yang saya temui meskipun banyak chaos terjadi di sana sini. Awal berangkat aja udah ada yang lucu. Rencananya saya bakal berangkat naik kereta ke London dan naik Eurostar ke Brussels sama Prof Pierron dan Dr George Limbert. Nah si Prof itu nawarin naik taxi bareng sama dia.

Kira-kira begini isi email-emailan kami :
Prof : Sari, saya besok mau naik taxi nih jam 10.05 dari rumah ke stasiun southampton. Kalo kamu mau ikut, kamu ke rumah saya aja di jalan X nomer Y.
Saya : Wah Prof, rumah saya di jalan M nomer N. saya takut kalo ke rumah Prof dulu malah nyasar. Memungkinkan gak kalo saya tunggu di Interchange kampus aja? Kalo gak bisa gpp, saya naik bus aja. hehe
Prof : Oh yaudah kamu tunggu di kampus aja ya jam 10.10. Nanti taxi nya saya suruh lewat situ.

Saya masih sering bertanya-tanya : mahasiswi macam apa saya ini?? Kurang ajar banget kan nyuruh-nyuruh Profesor njemput saya.. haha.. Continue reading

Responsibility

teacher

Dulu di awal kuliah, teman saya yang dari Jepang memperingatkan saya buat lari dari Southampton karena bahan riset saya terlalu banyak mengandung matematika yang memusingkan. Katanya supervisor saya ini kelihatannya baik, tapi sebenarnya ingin membunuh saya pelan-pelan dengan integral berlipat-lipat dan berbagai macam turunan yang sangat kompleks (ini becandaan belaka ya…)

Setelah saya jalani selama dua bulan ini, saya lihat bahwa memang banyak sekali hal kompleks yang tidak pernah saya temui di kampus saya dulu. Akhirnya setiap mau presentasi, otak saya rasanya mendidih saat menguraikan berbagai macam perhitungan yang sangat sulit dan abstrak ini.

Yang aneh adalah, supervisor saya juga ternyata tidak begitu paham dengan metode ini karena belum pernah ada yang menjalankan metode ini di Southampton sebelumnya. Tapi bagusnya adalah, mereka mengakui dengan sejujur-jujurnya bahwa mereka tidak tahu. Mereka berjanji untuk malakukan background reading juga untuk membantu saya. Profesor saya bilang beliau baca materi ini sudah lama sekali dan tidak ingat lagi intinya. Continue reading