Mummy Gives Me Cocaine

I have just written this short story about a person I know whose life is exteremely contrast compared to mine. It’s been hard to picture her life in this perspective previously. Unlike me, I thought she lived a happy life, turned out she is just f-in high. This is the moment I let go of what haunted my mind all this time. Off you go, the ghost of my life..
 
(Anyway, thanks for giving me this difficult exam to solve for the last 25 years.)
———————————————–
-Mummy Gives Me Cocaine-
 
I am a girl who lives in a privileged family
Whatever I want, mummy always grants my wishes
Delicious food? Check
Warm and comfy bed? Check
Pretty branded clothes? Check
New sporty car? Check
Travelling to USA? Check, UK? Check, New Zealand? Check, Thailand? Check, China? Check, Korea? Check
You know what, mummy can even buy people’s mouths so that they never say bad things about me!
 
Mummy always gives me this kind of cocaine
Mummy keeps me high all the time
I don’t know what poverty means
I don’t know what pain means
I don’t know what suffering means
Basically, I don’t know what life is
I don’t have any idea of how to live a life
Because I have only seen this imaginary world built by mummy
A world where I don’t have to earn anything for my family
I don’t need to work during the day to buy a plate of rice for my dinner
I also don’t have to find a partner who needs to struggle in life with me,
and I don’t think I can maintain any kind of relationships either
People say relationships can be tough and painful, so why would I want that?
 
I am just Mummy’s beautiful little princess who should not get any kind of scars in life
I should stay inside this castle of hers
I believe Mummy will never stop giving me cocaine
I will be high forever and ever…
 
-the end-
 
——————————————————-
(FYI, I am not a great English writer and I can never be poetic.)
Southampton, 29th of January 2017

Kenapa Orang Indonesia Suka Berdebat Sengit Di Media Sosial?

Halo semuanya, udah lama nih aku gak ngeblog. Kali ini, blog ku bakal mengangkat topik yang lagi-lagi diangkat dari salah satu artikel dari The Economist. Buat para pembaca yang setia mungkin masih inget kalo dulu salah satu tulisanku ada yang mengangkat isu dari majalah The Economist juga.

Nah, sekarang aku mau membahas tentang sebuah artikel The Economist yang membahas pendidikan di Indonesia dengan tanggal terbit 13 Desember 2014. Kalimat pertama di bawah judulnya langsung bikin geregetan banget : Indonesia’s schools are lousy. Begitu katanya.

Akhirnya aku baca artikelnya dan ada satu paragraf yang menarik banget buat aku. Dia bilang, menurut tes dari PISA (Programme for International Assessment), nilai siswa Indonesia di bidang Sains, Membaca, dan Matematika itu umumnya jeblok, jangankan dibanding sama Singapura, orang lawan Vietnam yang GDP per kapita nya lebih rendah aja kita kalah. Salah satu hasilnya bilang bahwa dari 100 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah, cuma ada 25% yang bisa memenuhi standar internasional di bidang literasi dan berhitung setelah lulus.

Sekilas aku pernah denger tentang PISA, tapi baru hari ini aku cari tau lebih dalam. Jadi, PISA itu adalah sebuah tes yang mengukur pengetahuan kunci berfokus di bidang math, dengan tambahan penilaian minor di bidang science, reading, dan problem solving. Pembuat tesnya adalah OECD countries dan target tesnya adalah siswa sekolah menengah atas berumur 15 tahun di 65 negara di seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Keluaran dari OECD ini tidak diperuntukkan untuk penilaian individu partisipan, tapi dikelompokkan per negara. Continue reading

Brian Tyler dan Mesin Waktu

Pengalaman menyaksikan langsung sebuah konser musik adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya, dan ketika pertama kalinya saya melihat sebuah karya seni musik orkestra dihadirkan dalam hidup saya, pikiran saya bergelayut ke banyak memori di masa lalu. Memang musik seringkali bisa menjadi mesin waktu yang membawa kita ke tempat-tempat dan momen-momen berharga yang pernah kita lalui. Musik bisa menjadi sesuatu yang spiritual, bisa membuat kita bersemangat, berkobar, bergelora, tapi ia juga bisa membangkitkan perasaan duka, pilu, atau memunculkan ingatan yang mengharu biru.

Cerita ini bukan hanya tentang detik ketika saya duduk di Royal Festival Hall dan melihat bagaimana seorang musisi bernama Brian Tyler, memimpin Philharmonia Orchestra untuk memainkan beberapa karya Original Sound Track (OST) yang digarapnya untuk film-film kenamaan hollywood seperti The Expendables, Fast and Furious, Iron Man, Thor, Now You See Me, dsb.

Pikiran yang berkecamuk di otak saya sekali lagi bukan hanya tentang waktu 2 jam yang saya habiskan tepat di barisan pertama depan panggung untuk mendengarkan instrumen-instrumen musik yang melantunkan banyak lagu yang luar biasa dahsyatnya. Apa yang saya rasakan lebih kepada proses 7 tahun perjalanan saya hingga saya bisa mencapai 2 jam episode tersebut.

5.1.2
Interior Royal Festival Hall, London

Saya teringat pada perjalanan saya yang dimulai 7 tahun yang lalu, tepatnya semenjak tahun 2009. Episode tersebut merupakan episode yang dipenuhi dengan rasa tidak menyenangkan. Alam semesta saat itu sepertinya hanya punya hidangan yang rasanya teramat sangat pahit untuk saya makan.

Malam kemarin ketika saya duduk dan mendengarkan alunan musik orkestra kemarin, jiwa saya seperti diantarkan ke sebuah tempat yang sangat sering saya datangi saat petang menjelang di masa lalu. Pada saat itu, saya tidak pernah menyangka kalau tahun 2016 ini saya akan berada di ibukota kerajaan Inggris dan bisa duduk di dalam Royal Festival Hall. Yang saya tahu malam itu saya harus melakukan perjalanan dari Pekalongan ke Depok dengan menggunakan bis ekonomi yang susunan kursinya 3-2. Saya sering sekali melakukan perjalanan sendiri dari rumah orang tua saya di Pekalongan menuju ke tempat saya belajar di Universitas Indonesia, Depok, semenjak awal kuliah saya tahun 2009 sampai saya lulus S2 di tahun 2014. Saat waktu libur habis, saya harus kembali berkelana ke ibukota seorang diri untuk menuntut ilmu. Tiket bis yang seharga Rp 50 ribu itulah yang orang tua saya mampu belikan untuk saya. Kemudian saya juga biasanya dibekali dengan nasi goreng yang harganya hanya Rp8 ribu untuk saya makan di tengah perjalanan. Biasanya saya naik bis Sinar Jaya, entah dari tempat agennya di sebuah pasar bernama Pasar Grogolan, atau di terminal bis Pekalongan. Seperti yang kita tahu kalau bis berbangku 3-2 adalah sarana transportasi umum yang biasa digunakan oleh rakyat kecil. Orang-orang yang berkecukupan biasanya akan lebih memilih naik kereta kereta bisnis/eksekutif atau moda-moda angkutan umum lain yang lebih nyaman atau bahkan menggunakan mobil pribadi. Angkutan bis memang sangat tidak nyaman, bukan hanya saat di bisnya, tetapi juga saat menunggu jam keberangkatan. Para penumpang tidak diberikan kursi yang cukup sehingga banyak yang harus duduk atau berdiri di emperan toko. Tidak menyenangkan, tidak nyaman, tapi harus saya terima.

Oh iya, ada satu hal yang sangat ‘menarik’ dengan bis sinar jaya Pekalongan-Depok ini. Di tengah perjalanan, biasanya bis ini akan berhenti di Indramayu untuk supir beristirahat dan penumpang bisa ke kamar kecil atau makan. Setelah berangkat kembali dari istirahat, akan ada 1 orang penyanyi dangdut wanita yang ikut naik ke dalam bis. Orang ini akan menyanyikan 3 lagu dangdut menggunakan microphone dan diiringi musik yang sangat keras dari radio tape yang dibawanya. Lagu yang biasa dibawakan sangat identik dengan lagu dangdut pantura yang lazimnya mengisahkan tentang kenestapaan wanita yang disakiti oleh laki-laki, misalnya karena suaminya suka mabuk, judi, atau berselingkuh. Setelah selesai mengamen selama kurang lebih 15 menit, penyanyi dangdut tersebut akan mengedarkan kaleng untuk mengumpulkan uang dari para penumpang yang terkantuk-kantuk. Kemudian setelah selesai, pak supir bis akan menepi dan menurunkannya di pinggir jalan. Dalam otak saya, memori tentang penyanyi dangdut ini sangat melekat kuat karena puluhan kali saya pulang pergi Pekalongan-Depok menggunakan bis saat liburan kuliah.

Kemarin saat duduk di gedung konser, jiwa dan tubuh saya seperti terjerembab ke momen saat saya berada di dalam bis malam itu. Saya membatin dan berbisik, mungkinkah ini semua hanya mimpi dan sebenarnya saya masih duduk di dalam bis Sinar Jaya mendengarkan musik pantura, bukannya di Royal Festival Hall mendengarkan orkestra?

Lima tahun saya menikmati kursi yang sempit di dalam bis-bis itu. Lima tahun saya mendengarkan raungan lagu luka lara para penyanyi dangdut. Namun, kemudian saya rasakan gravitasi menarik saya kembali ke tempat saya di Royal Festival Hall perlahan-lahan. Bertahun-tahun saya hidup penuh dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan. Setelah banyak menyesap minuman yang sangat pahit, saat ini semesta mulai menyuapi saya dengan sesuatu yang manis. Saya menikmati kembali kesyahduan dan juga gelora semangat dari karya-karya Brian Tyler. Dari duduk di dalam bis yang sempit, menjadi duduk di barisan depan RFH London. Dari mendengarkan lagu-lagu yang penuh kenestapaan dengan iringan rekaman tape, sekarang saya mendengarkan lagu-lagu yang dibuat oleh seorang maestro untuk film-film terkenal dan dimainkan oleh the Philharmonia Orchestra. Dari yang tadinya naik bis bersama dengan sesama rakyat biasa, sekarang saya duduk satu ruangan dengan produser Now You See Me. Ini pencapaian besar untuk saya.

Banyak sekali hal yang berubah dan tidak pernah saya rencanakan di masa lalu. Sebelum saya ke RFH, siang harinya saya mampir ke Restoran Nusa Dua di tengah kota London. Restoran yang cukup mewah dan menyajikan menu Indonesia yang luar biasa nikmatnya. Lagi-lagi, dahulu saya hanya beli nasi goreng di dekat rumah sebelum saya berangkat ke Depok, tetapi sekarang saya bisa makan di tempat yang nyaman di tengah kota London. Kemudian, sembari menunggu mulainya acara, saya berjalan-jalan di Natural History Museum, London Eye, dan Big Ben. Kembali saya bernostalgia kalau dahulu saya hanya bisa menunggu di emperan toko. Setelah semua hal di masa lalu yang seringkali terasa pahit, semua pengalaman kemarin terasa amat sangat manis dan saya resapi dan nikmati dengan sepenuh hati. I am not taking it for granted.

13198606_10207645554995436_7695290659523372425_o
Natural History Museum, London

Sekali lagi ini bukan 2 jam pertunjukkan. Ini adalah 7 tahun perjalanan yang dipenuhi pengalaman yang begitu tidak terduga!

Selain itu, Brian Tyler bukan sekedar artis yang berbakat bagi saya, tetapi juga sangat menginspirasi secara personal. Saya sangat kagum dengan orang-orang yang matanya memancarkan api kehidupan yang membara yang seakan-akan tidak akan pernah padam sampai ajal menjemput. Totalitasnya sebagai seorang musisi membuat saya ingin bekerja keras meningkatkan kualitas diri saya saat ini. Saat diwawancarai di BBC, ia berkata kalau sebelum memutuskan siap merekam lagu dengan orkestra untuk sebuah film, ia biasanya menonton film tersebut sampai 200 kali. Makanya hasilnya luar biasa.

Ia juga sudah mulai menulis lagu tema saat usianya 12 tahun. Pada saat itu dia iseng menulis 6 bar lagu untuk novel Children of Dune yang sedang dibacanya. Kemudian beberapa puluh tahun kemudian, pastinya tanpa disangka-sangka, ia dikontrak untuk membuat theme song Children of Dune, dan kemudian mengikutsertakan 6 bar lagu yang dahulu kala pernah ia tulis ke dalam produksinya yang sekarang. Kemarin saat di konser juga ia berterima kasih pada orang tuanya yang hadir karena katanya orang tuanya selalu mendukung Impian Gilanya – atau yang dia sebut sebagai “Crazy Vision” sejak dulu.

Kata-kata Crazy Vision ini kemudian menjadi sesuatu yang melekat di benak saya. Mungkin sekarang ini saya perlu mencanangkan impian gila yang perlu saya kejar untuk jangka waktu panjang. Toh sejak kecil saya sudah hidup tidak dengan cara yang biasa-biasa saja.

Saya ingat dulu waktu ada semacam training ESQ di SMA, saya tuliskan saya mau jadi peneliti nanoteknologi dan ternyata tercapai keinginan saya menjadi peneliti meskipun di bidang pesawat terbang. Padahal waktu itu saya juga tidak begitu paham apa itu peneliti dan bagaimana caranya jadi peneliti.

Dulu waktu SMA, saya hanya ingin jadi mahasiswi S1 UI (dimana ini sudah sangat berbeda dengan yang lain karena jarang murid SMAN 1 PKL yang kuliah di UI), tapi ternyata saya juga dapat S2 gratis, dan saya bolak-balik ke kantor Rektor UI karena Prof Anis adalah pembimbing tesis saya. Waktu pertama kali mendaftar PPKB, saya tidak pernah membayangkan bisa kenal dan ngobrol-ngobrol secara personal dengan rektor Universitas Indonesia. Bagi saya, ini pencapaian tersendiri.

Dulu waktu SMP saya ingin sekolah SMA di luar negeri, tepatnya Singapura, tapi ternyata saya ke luar negeri malah untuk kuliah S3 di Inggris. Dari Singapura malah melenceng ke Inggris. Meski terlambat 8 tahun, tapi SMA jadi S3!

Saya dulu berencana untuk mengejar beasiswa dari STUNED atau Erasmus Mundus, eh malah saya dapat dari Schlumberger, Tenaris, dan Southampton. Awal ingin cari 1 beasiswa berbasiskan mata uang Euro, malah jadi 3 beasiswa dan saya mendapatkan US Dolar dan Poundsterling.

Dulu saya berkeinginan agar waktu umur 20 tahun, tulisan saya bisa dibaca 10,000 orang, ternyata tulisan-tulisan saya sampai saat ini sudah dibaca lebih dari 150,000 orang. Padahal saya tidak pernah belajar menulis secara formal.

Dari sekian banyak rencana saya, ternyata banyak yang melebihi ekspektasi. Meski seringkali di awal saya tidak punya bayangan bagaimana mencapainya, ternyata ada saja ‘keajaiban’ yang datang silih berganti setiap waktu.

Untuk itu, saat ini saya akan menuliskan apa yang saya ingin capai di masa depan :

Impian gila saya selanjutnya adalah menuliskan kisah-kisah saya kemudian membuat film dari kisah tersebut, dan meminta Brian Tyler untuk membuat musiknya. Semua ini akan saya lakukan dalam jangka waktu 15 tahun lagi.

Ya, benar! ini adalah visi saya dalam jangka panjang. Saya ingin membuat naskah film berdasarkan kisah-kisah saya dan Brian Tyler yang mengisi soundtracknya! Saya tidak peduli siapa aktor atau aktrisnya, yang penting composernya Brian Tyler.

Salah satu lagu yang paling saya suka dari konser kemarin adalah lagu OST Far Cry berjudul Further.

Saya bisa membayangkan di pikiran saya kalau lagu seperti ini akan sangat cocok dijadikan lagu penutupan film saya nanti sambil memberikan kilas balik seperti di scene terakhir film The Theory of Everything (Film tentang Hawking).

7 tahun ini saya bergerak dari 0 menjadi sesuatu. Untuk itu saya percaya kalau dalam 15 tahun, saya akan bisa mendapatkan yang lain lagi. Brian Tyler sejatinya hanyalah visualisasi kesuksesan. Karena untuk membuat Brian Tyler mau menciptakan musik untuk kisah saya, maka berarti dalam 15 tahun ke depan saya harus benar-benar bekerja keras untuk bisa membuat kisah yang memang layak untuk ditonton oleh Brian Tyler 200 kali.

Ini memang terdengar gila, tapi dari track record saya, sepertinya ini bukan utopia. Semoga 15 tahun lagi saya sudah berada di state yang jauh lebih baik dari sekarang, dan saya akan kembali duduk di mesin waktu dan mengingat hari-hari yang saya lalui saat ini.

Sekian yang bisa saya tuliskan. Saya akan terus berkerja keras untuk bisa meraih Crazy Vision saya.

13161680_10207641139645055_7433409285428291004_o
Brian Tyler saat konser kemarin hanya menggunakan kaos warna hitam lengan pendek. Foto ini saya ambil dengan kondisi baterai HP yang tinggal 3%. Oiya, foto ini di ‘Love’ oleh Brian Tyler di Instagram saya. 🙂

cruise tyler
Kemarin Tom Cruise juga ikut nonton di RFH!

 

Research – Behind The Scene

Sudah lama saya gak ngeblog. Kali ini saya mau cerita sesuatu yang lebih menarik tentang riset saya. Jadi kalau kalian gak tertarik dengan riset, mungkin bisa baca cerita saya ini supaya merasa tertarik. Hehe..

Riset itu punya seluk beluk yang cukup kompleks dan banyak cerita di baliknya. Sayang tidak banyak kisah yang diangkat ke publik. Memang kebanyakan ilmuwan tidak mengkomunikasikan hasil riset mereka ke publik meski sebenarnya khalayak ramai adalah end usernya. Nah untuk itu, saya akan coba menceritakan bidang riset saya yang merupakan 1 dari sekian puluh juta hal yang diteliti di dunia ini.

Jujur ya, dari awal saja sudah banyak orang yang tidak paham apa itu Teknik Material atau Teknik Metalurgi. Padahal istilah Material atau Metalurgi adalah istilah yang paling general dari berbagai macam turunan ilmunya. Jadi, ilmu Material (Material Science) itu adalah salah satu bidang dasar dari IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Ilmu Material ini bisa dikategorikan sebagai percabangan ilmu fisika dan kimia. Ilmuwan Material (Materials Scientist) itu adalah orang-orang yang mempelajari atau menginvestigasi sifat alamiah (sifat fisik dan sifat kimiawi) materi di dunia ini. Nah, Ilmu Material ini punya anak namanya Teknik Material (Materials Engineering). Materials Engineer ini kerjaannya adalah mengeksploitasi sifat natural dari material (plastik, logam, keramik) agar lebih berguna di masyarakat. Sedangkan Teknik Metalurgi adalah sebagian dari Teknik Material karena hanya berkutat dengan material Logam.

Saat ini keilmuan material dan metalurgi, baik dipandang dari sisi science maupun engineering sudah sangat sulit dipisahkan satu sama lain. Cabang ilmu Metalurgi/Material dan ditambah dengan cabang ilmu lainnya sudah menghasilkan ribuan cabang ilmu, misalnya nanomaterial, biomaterial, dsb.

Departemen saya di Southampton dinamakan Engineering Science dan memang benar kami harus menggunakan fundamental science untuk menyelesaikan masalah teknis yang kami hadapi di sini. Saya banyak memakai ilmu Matematika, Fisika, dan Kimia untuk membantu mempelajari komponen engineering yang saya teliti di sini, yaitu mesin turbin.

Mesin turbin yang saya teliti digunakan untuk dua macam hal, yakni pembangkit listrik dan mesin pesawat. Mesin turbin sendiri terdiri dari banyak aspek engineering, misalnya dari termodinamika, aerodinamika, vibrasi, dan material.

Oh iya, sebelum terlalu jauh, menjelaskan tentang mesin turbin, ini saya kasih liat bagaimana bentuk mesinnya.

Untitled1

Yang di atas itu adalah suami saya, wkwk. Dibelakangnya itu mesin turbin pembangkit listrik yang ‘dipamerkan’ di area Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia. Nah, yang di bawah ini adalah mesin turbin untuk pesawat yang biasanya terletak di bawah sayap pesawat komersial atau di bawah badan pesawat tempur.

Untitled

Dari mesin yang sebesar itu dan material yang bermacam-macam, saya hanya menginvestigasi sebagian materialnya saja, tepatnya di daerah turbine disc (piringan turbin) dan turbine blade (sudu turbin).

Screen Shot 2016-04-25 at 11.45.23

Komponen no 1 di atas adalah turbine blade. Turbine blades tersebut dipasang di turbine disc yang ditunjukkan oleh nomer 2. Lihat di sini skemanya.

Screen Shot 2016-04-25 at 11.46.56

Jadi, bagian turbin yang saya lingkari ungu adalah komponen yang sangat kritis karena tekanan yang tinggi dan dipenuhi temperatur yang sangat panas hasil dari pembakaran dengan avtur di ruang bakar. Dalam cabang ilmu metalurgi, komponen turbin menempati posisi tertinggi untuk tingkat presisi dalam manufakturnya. Bahkan, komponen ini dibuat lebih presisi daripada jam Rolex. Kenapa? Jawabannya ada di gambar bawah ini.

Pesawat adalah sarana transportasi paling cepat dan nyaman, tapi ia juga harus sesuai dengan hukum alam yaitu semakin besar yang dicapai semakin tinggi pula risikonya (high gain = high risk). Untuk transportasi seperti mobil atau kapal, kalau terjadi kecelakaan penumpangnya masih mungkin lari atau berenang ke luar. Sedangkan untuk pesawat, jika terjadi kebakaran mesin di udara, maka kemungkinan besar tidak akan ada yang selamat karena penumpang tidak bisa melarikan diri secara mandiri. Untuk itu penumpang dan kru kabin sangat bergantung pada kelayakan pesawat saat terbang, dan yang bisa menjamin kelayakan pesawat ini adalah para engineer dan teknisi yang bekerja. Demikian pengantar mengenai ilmu yang saya pelajari dan apa tujuan utamanya untuk manusia.

Supervisor saya adalah orang yang sangat ahli dalam material turbin. Riset yang beliau bangun selalu mengarah untuk membangun pengetahuan yang solid terhadap proses kerusakan turbin. Saat ini beliau tergabung dalam 1 konsorsium riset di Inggris yang berusaha untuk mempelajari hal tersebut. Kami semua berusaha merekam dan menganalisa proses detail pertumbuhan retak di material nikel yang dibuat dengan berbagai karakteristik. Dalam pembuatan material turbin, material dibuat dengan 2 cara : Cor dan Metalurgi Serbuk. Masing-masing proses menghasilkan material dengan sifat dan kekuatan yang berbeda, dan proses permulaan retak dan perambatan retaknya pun berbeda.

Menganalisa keretakan turbin sebenarnya sangat sulit karena komponen yang patah jadi dua atau mungkin malah pecah berkeping-keping itu awalnya hanya dari pergeseran 1 nanometer partikel material karena pembebanan dari luar. Nah, dari awal 1 nanometer itulah kemudian retakan tumbuh jadi 5 nm, 50 nm, 1 mikron, 100 mikron, 1 cm, kemudian 20 cm, hingga akhirnya ada 1 bilah sudu yang patah dan menghajar mesin yang sedang berputar sangat kencang, dan kemudian terjadilah kecelakaan yang tidak diinginkan.

Di sini mahasiswa PhD dan Post-Doc diberikan tugas masing-masing untuk mengamati satu jenis material dan memetakan pola retaknya, apakah lurus, ke kanan, ke kiri, atau berputar-putar. Hehe.. Kami harus tahu seberapa cepat dia retak dan faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhannya. Untuk membuat retakan di material, kami menguji spesimen kecil dan memberikan pembebanan yang mirip dengan aslinya. Untuk melakukan pengujian ini, ada training khusus yang harus dilakukan karena alat yang kami gunakan bisa memberikan beban hingga 10,000 kg ke spesimen yang diuji. Kemudian setelah muncul retakan, kami amati permukaan materialnya di mikroskop elektron yang bisa memberikan perbesaran sampai ratusan ribu kali. Ini contoh retak fatik punya orang yang diperbesar 20,000 kali menggunakan Scanning Electron Microscope. Kalau punya saya belum boleh dipublikasikan… 😀

figure2

(Sumber : http://www2.lbl.gov/ritchie/Programs/NITI/)

Jaman dulu, pengamatan permukaan secara 2 dimensi dengan mikroskop elektron saja sudah cukup. Namun sekarang tingkat ketelitian yang diinginkan menjadi lebih tinggi. Salah satu kasus yang terjadi adalah karena pergeseran partikel tidak terbuka ke arah kanan dan kiri, melainkan ke atas dan ke bawah sehingga gambar 2 dimensi tidak bisa menagkap fenomena tersebut. Di laboratorium kami ada alat CT Scan, tapi resolusinya tidak mampu untuk pencitraan dalam skala nanometer. Maka dari itu, kami harus mencoba menggunakan alat Atomic Force Microscope yang bisa memetakan profil 3 dimensi permukaan material dengan resolusi tinggi. 

Sebagai seorang materials scientist, kami harus sangat teliti dalam melihat berbagai fenomena. Skala material yang kami tangani sangat penting untuk mengerti fenomena yang terjadi. Kami harus tahu benar mana fenomena yang berkorelasi, mana yang tidak. Dalam satu area spesimen bisa saja terjadi berbagai macam mekanisme retakan dan kami harus mengerti masing-masing skenarionya.

Secara umum studi doktoral bukan hanya mengajarkan saya untuk mengerti tentang material. Saya juga terbiasa melatih cara berpikir logis untuk kepentingan hidup saya sehari-hari. Banyak sekali yang terjadi di sekitar saya, sebagian barangkali berhubungan, dan sebagian lainnya terjadi hampir independen satu sama lain. Sebelum menarik kesimpulan bahwa A adalah akibat dari B, saya perlu merunut banyak hal terlebih dahulu. Nah, tentu saya tidak tahu dan sempat untuk meneliti banyak hal di dunia ini, untuk itu saya akan tanya kepada yang lebih ahli atau memilih abstain ketika bertemu sesuatu yang saya tidak mengerti. Katanya ‘Doctor of Philosophy’ itu berasal dari bahasa yunani yang arti secara luasnya adalah orang-orang yang mencintai kebijaksanaan atau wisdom. Saya yakin orang yang sangat bijaksana tidak gampang menghakimi sesuatu atau seseorang sebelum tau keseluruhan ceritanya.

Btw, saya perlu tegaskan kembali kalau kerjaan saya ‘BUKAN MEMBUAT PESAWAT’. Saya hanya meneliti retak fatik dari turbin disc dan turbine bladesnya. Bersama grup riset saya, saya membangun pengetahuan mengenai hal tersebut untuk membantu para produsen mesin turbin membuat komponen yang lebih handal tetapi tetap ekonomis. Saya tidak bisa membuat pesawat. Yang bisa membuat pesawat adalah orang-orang dari teknik penerbangan/dirgantara/aerospace. Orang dari teknik dirgantara yang bisa menentukan bentuk pesawat sesuai dengan misinya, dimensinya, bentuk sayap, jumlah mesin, letak mesin, sistem kendali, dsb. Orang-orang teknik material yang menentukan misalnya untuk bagian sayap atas itu pakai aluminium jenis apa dan sayap bawah pakai jenis apa karena bagian atas dan bawah mengalami bentuk pembebanan yang berbeda. Metode pembentukan logam apa yang harus dipakai, apakah dicor, diroll, atau menggunakan metalurgi serbuk. Jika memang ada komponen yang perlu disambung, bagaimana caranya, apakah boleh dilas atau dirivet. Kalau dilas, metode las apa yang tepat dari puluhan jenis metode las yang tersedia di pasaran. Nah, orang-orang dari teknik mesin atau propulsi yang akan menentukan model mesin, proses kompresi, proses pembakaran, berapa tahap turbin yang dipakai, disain afterburner, dsb. Sedangkan orang material yang akan menentukan material apa yang tahan sampai 1000 derajat celcius, proteksi material dari oksidasi, proteksi material terhadap pertumbuhan retak yang terlalu cepat. Kami juga menentukan sifat intrinsik material yang cocok misalnya ukuran butir material, ukuran partikel penguat, unsur paduan yang diperlukan, dsb.

US_Navy_090114-N-9704L-004_Hull_Technician_Fireman_John_Hansen_lays_beads_for_welding_qualifications.jpg
Contoh prose las yang dilakukan oleh teknisi. Yang mendisain proses las dan parameternya baru Engineer. Welding Engineer tidak ngelas, semacam orang Civil Engineer tidak ngaduk semen sendiri saat bangun gedung..

Oh iya, banyak sekali negara di dunia ini yang bisa mendisain dan membuat pesawat. Tapi jarang sekali yang bisa membuat mesin pesawat. Pembuat pesawat itu bukan cuma Boeing dan Airbus, ada lainnya seperti Bombardier, Embraer, CASA, Gulfstream, Dassault, dsb. Setau saya yang bisa bikin mesin pesawat hanya Rolls Royce, Pratt&Whitney, General Electric, dan Snecma. Jadi biasanya pabrik pesawat akan bikin disain dan badan pesawat sendiri, tapi mesin akan diimpor dari USA atau UK. Kenapa demikian? Karena tadi, proses manufaktur mesinnya teramat sangat sulit dan risetnya sangat mahal. Tapi kalau untuk mesin turbin pembangkit listrik jauh lebih banyak yang bisa produksi karena tidak terlalu berisiko seperti mesin pesawat.

Oke sekian dulu cerita dari saya. Kapan-kapan saya sambung lagi… Terima kasih sudah membaca.. 🙂

 

Food and Eating in Indonesia from a Westerner’s perspective

I found this hilarious yet accurate writing about Indonesian food and eating habit. Please enjoy! 😀

——————

If you eat in Indonesia, you eat rice. Rice is the central part of any meal. You can eat noodles or a variety of other starches like cassava or even potatoes, but it’s not a real meal without rice. In fact, the phrase ‘makan nasi,’ meaning to have a meal, translates literally to eat rice. A meal can be just about anything with rice. You’ll see a lot of fried chicken and a lot of fish, as these make up the bulk of the animal protein that’s commonly eaten on a day-to-day basis, at least on the main island of Java. A lot of vegetables are eaten, either fried or boiled and served in their broth; these can always be poured over the rice and eaten with a spoon.

Seafood in Indonesia is wonderful. Fish, both freshwater and from the sea, is plentiful and widely available, as is crab, shrimp, mussels, prawns, squid (cuttlefish), octopus and eel. These are cooked in a variety of ways and all are usually served with rice. Note that almost everything will have some bite to it, as chili peppers are used in almost all cooking and can be quite spicy for people from some parts of the world, but not nearly as spicy as Thai cuisine. As well as chili paste, chili sauce or just raw chili peppers will be served along with the meal; you can either just eat your food on medium spicy or you can try to raise blisters on your tongue. Some food and sauces can be extremely hot, so if you’re not accustomed to it, take it in moderation at first-eventually you will build a tolerance and learn to love the heat. Continue reading

Dian Pelangi, Khanaan Shamlan, dan Pekalongan

 Screen Shot 2016-02-20 at 22.16.55

I’m so proud of Dian Pelangi! Postingan pertamanya di Instagram setelah fashion show nya di London Fashion Week bawa-bawa nama Pekalongan! Haha…

Sebagai orang Pekalongan yang tinggal di Inggris, saya ikut berbahagia atas salah satu pencapaian Dian Pelangi di negara ini. Bisa ikut LFW adalah sebuah langkah besar bagi disainer2 di dunia ini. Saya sudah menunggu dari dulu agar Indonesia bisa setidaknya unjuk gigi di dunia fashion internasional karena kerajinan tekstil kita luar biasa ragamnya. Alhamdulillah saya melihat salah satu impian saya untuk bangsa ini direpresentasikan oleh seseorang yang berakar fashion dari kota asal saya (note : DP lahir di Palembang, tapi pernah sekolah di Pekalongan dan sampai saat ini orang tuanya masih di Pekalongan).

Selain Dian Pelangi, Pekalongan juga melahirkan seorang disainer bernama Khanaan Shamlan. Khanaan masih sama mudanya dengan Dian Pelangi dan busana rancangannya juga luar biasa cantik. Alhamdulillah kemarin waktu saya menikah, saya bisa memakai busana rancangan Khanaan. Khanaan ini bisa saya bilang secara karier masih ‘adiknya’ Dian Pelangi. Kalau di Jakarta, Khanaan sudah cukup terkenal. Bahkan busana rancangannya sudah dipakai oleh artis-artis Indonesia semacam Dewi Sandra, Laudya Chintya Bella, Okky Asokawati, Ayu Ting-Ting, dll. Untuk urusan Go International pun Khanaan juga pernah ikut menampilkan rancangannya di Heya Fashion, Qatar.

Screen Shot 2016-02-20 at 22.21.35

Rancangan Dian maupun Khanaan lebih mengarah ke haute couture, meski ada sedikit disain untuk ritel. Setahu saya untuk Dian Pelangi koleksinya cuma ada butik-butiknya dan di La Fayette(?). Sedangkan Khanaan punya dua butik, di Cipete Raya Jakarta dan di Pekalongan (Ada butik Khanaan dan Batik Luza).

Kemarin waktu saya pesan baju pengantin, saya beberapa kali ke butiknya yang di Cipete. Saya sempat 4 kali lihat baju pengantin di 4 tempat yang berbeda; Sanggar Liza(Tebet), Ancha Wedding(Cinere), Ayu Dyah Andari (FX), dan Khanaan. Pilihan saya kemudian jatuh di Khanaan karena beberapa pertimbangan. Sebenarnya saya sendiri gak terlalu aware dengan dunia fashion, baik couture atau retail. Namun khusus pada pernikahan saya, saya berprinsip bahwa baju pengantin saya Tidak Boleh dipakai orang lain. Untuk itu saya memilih membeli baju baru, bukan sewa perdana, apalagi sewa. Saya juga pengen pakai baju yang benar-benar tertutup. Saya tidak mau pakai baju kebaya yang dilapis dengan manset warna kulit. Untungnya prinsip estetika + syari + keras kepala ini bisa saya dapatkan dengan budget saya. Waktu itu badan saya juga diukur langsung sama Khanaan, ruas per ruas, jadi berasa pas banget dipake di badan saya.

Ini baju rancangan Khanaan yang saya pakai.

Oiya ternyata setelah saya menikah, saya baru tahu ternyata model baju dengan potongan dress yang kaku (tapi bukan seperti ball gown) dan motif yang lebih bold berukuran besar lagi ngetrend. Elie Saab, salah satu perancang mode paling terkenal seantero jagad, juga punya disain begini dan bajunya dipakai sama Rachel McAdams (tapi jelas bagusan punya diaaaa). Hahahahaaa…

elie saab

Intinya saya seneng banget karena perancang-perancang Indonesia sudah ada yang Go International. Sayang sekali pemberitaan di Indonesia kurang banter ya. Kalo sesuatu yang kontroversial semacem LGBT semua pada ribut, tapi ini ada orang berprestasi di luar dan mempromosikan sesuatu yang bernafaskan Islam malah pada diem. Pfftttt… 

Saya berdoa semoga hijab fashion Indonesia bisa semakin terkenal. Industri mode seperti ini jelas akan membuka banyak lapangan kerja untuk grassroot. Saya juga berharap semoga ada perancang2 hijab Indonesia yang bisa eksis di galeri semacam Bergdorf Goodman dan bisa lebih sering tampil di Milan, Paris, NY, London, etc. Alangkah membanggakannya kalau Indonesia bisa jadi pusat mode muslim dunia! 

Sekali lagi selamat buat Dian Pelangi! Semoga sukses juga untuk Khanaan dan perancang-perancang Indonesia lain yang sedang berusaha mengharumkan nama Indonesia ke kancah internasional.

Cutting Edge Research

Minggu kemarin saya bertemu salah satu Postdoc yang menunjukkan cara kerja Computed Tomography (CT) Scan untuk memindai interior material secara 3 dimensi. Karena material yang saya pelajari khususnya adalah paduan super nikel untuk mesin pesawat terbang, saya diajarkan cara memindai dan menghitung kandungan karbida di dalamnya. Namun karena nikel punya densitas yang sangat tinggi, maka kemampuan alat CT scan nya cuma bisa memindai maksimum 1mm x 1mm x 1mm. Bahkan untuk memindai spesimen sekecil itupun alatnya butuh waktu 14 jam. Jadi untuk satu spesimen penuh sebesar batang korek api, waktu pindai bisa lebih dari 3 hari. Tapi memang the pain is worth the gain. Hasil pencitraan yang dilihat benar2 detail dan keren. Kita bisa lihat mulai dari permukaan material, kemudian seakan-akan kita bisa menyelam ke dalam interior material sambil melihat pamandangan karbida yang bentuknya mirip batu karang di kanan-kiri. Kemudian menghitung fraksi volume karbidanya pun benar-benar detail per section dan kemudian bisa dirata-rata. Grup kami juga berhasil memindai permukaan atas dan bawah rambatan retak fatik di nikel dan kemudian dari hasil pindain 3D tersebut dicetak menggunakan 3D printer. Dari yang tadinya volume material yang mengandung rambatan retak cuma sebesar hitungan mikron kubik, dicetak menjadi ukuran balok dengan potongan melintang sekitar 30 cm x 30 cm. Dulu, permukaan retak mikro hanya bisa dinikmati secara virtual melalui foto 2 dimensi, sekarang bisa dinikmati secara 3 dimensi, bisa diamati, dan dirasakan teksturnya secara riil.

Selain material teknik, lab CT-Scan di sini banyak juga memindai fosil-fosil dinosaurus seperti Pliosaurus yang disebut artikel ini sebagai ‘Teroris Laut’ 150 juta tahu yang lalu. Fosil semacam ini tentu sangat tidak memungkinkan untuk dipotong-potong demi dianalisis organ dalamnya seperti halnya spesimen material nikel yang bisa dibuat lagi berulang-ulang di pabrik kalau rusak. Jadi kehadiran CT Scan sangat berarti bagi ilmu paleontology.

Jelas sekali fasilitas riset seperti ini bisa menunjang banyak rumpun keilmuan, tapi sayang sepertinya di Indonesia CT Scan baru ada di fasilitas kesehatan. Tapi memang biayanya super duper mahal dan sulit. Southampton sendiri berinvestasi sekitar £3juta (Rp 60 Milyar) dengan 40 orang ilmuwan yang terlibat dalam pengembangannya. Saat ini saya, 2 supervisor saya, dan 2 postdoc, sedang berusaha untuk terus mendorong pencitraan yang tadinya hanya bersifat kualitatif menjadi sesuatu yang bisa lebih terukur secara mekanik dan ‘full-field’. Mode pencitraan yang saat ini saya gunakan adalah Scanning Elctron Microscope dan akan melangkah ke CT. Tapi memang proses ‘pushing the boundary’ ini kita tidak tahu kapan dia akan benar-benar mentok.

Beberapa hari yang lalu juga saya datang ke seminar seorang peneliti dari University of Sheffield. Beliau juga menggunakan CT Scan dalam risetnya untuk menguji mekanika tulang yang terkena osteoporosis. Saat ini, pengujian yang dia lakukan masih menggunakan tikus. Jadi beliau memberikan obat-obatan yang mempengaruhi kondisi tulang si tikus dan kemudian si tikus dibius dan diletakkan di dalam alat CT. Pengujian mekanika tulang dilakukan dengan cara meregangkan kaki tikus perlahan-lahan sambil dilakukan pemindain 3D. Hasil pemindaian tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode Digital Volume Correlation. Sayang sekali sinyal yang dihasilkan masih sangat ‘Noisy’.

Saat ini kebanyakan memang alat CT digunakan untuk analisis biomaterial semacam tulang, jaringan lunak, tumbuhan, dan hewan. Sedangkan untuk studi bahan logam masih sangat sedikit karena keterbatasan penetrasi radiasi. Selain itu untuk memotong logam menjadi dimensi 1mm bukanlah hal yang mudah. Alat potong yang digunakan untuk hasil setipis ini sama dengan alat potong kornea mata yang digunakan saat operasi LASIK.

Saya sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah para ilmuwan yang sangat antusias dengan riset mereka. Semoga suatu saat di Indonesia juga ada fasilitas riset seperti di sini dan bisa melahirkan banyak ilmuwan yang risetnya tergolong ‘cutting edge’. Amin Ya Rabb.

Challenging Fear

Kemarin hari Selasa sekitar jam 7 malam saya masih di kantor, nangis sendirian di meja kerja saya. Kenapa saya nangis? Karena perasaan saya udah campur-campur gak karuan lantaran masalah jadwal presentasi yang carut marut. Pertama saya kesel sama salah satu dosen yang ngurusin jadwal presentasi rutin di riset grup saya. Intinya dosen ini bener-bener gak beres ngurus jadwalnya. Tiba-tiba dia kemarin jam setengah 7 malem minta saya buat presentasi hari Rabu ini di depan satu riset grup saya. Kesel banget kan kalo ada pemberitahuan mendadak gitu. Terus supervisor saya juga gak baca email saya yang minta bimbingan sebelum presentasi. Akhirnya waktu kemarin malem beliau tahu saya mesti maju presentasi hari ini, beliau kirim email menawarkan buat bimbingan Rabu pagi tadi. Udah gitu, tambah frustasi lagi waktu tahu saya harus maju presentasi bareng siapa sore ini.

seminar invitation

Continue reading

Adakah yang Lebih Islami dari Orang Islam?

Saya mau memfollow up dari cerita terakhir saya di blog tentang rapat bareng beberapa institusi di luar Southampton. Ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini tapi bukan tentang konten rapatnya, karena itu highly classified. 😀

Waktu saya menerima undangan rapat itu, saya resah karena saya gak punya sepatu formal. Saya ke kampus sukanya pake sepatu kanvas teplek yang udah buluk harganya cuma 140 ribuan. Saya bingung banget mau beli sepatu yang kaya gimana. Pengen gitu pake sepatu yang ada haknya 7 cm, tapi takut ngejeblak. Terus beberapa hari sebelum rapat itu, saya ketemu supervisor saya yang perempuan. Terus saya liatin sepatunya dan saya foto diem-diem. Continue reading