Kenapa Orang Indonesia Suka Berdebat Sengit Di Media Sosial?

Halo semuanya, udah lama nih aku gak ngeblog. Kali ini, blog ku bakal mengangkat topik yang lagi-lagi diangkat dari salah satu artikel dari The Economist. Buat para pembaca yang setia mungkin masih inget kalo dulu salah satu tulisanku ada yang mengangkat isu dari majalah The Economist juga.

Nah, sekarang aku mau membahas tentang sebuah artikel The Economist yang membahas pendidikan di Indonesia dengan tanggal terbit 13 Desember 2014. Kalimat pertama di bawah judulnya langsung bikin geregetan banget : Indonesia’s schools are lousy. Begitu katanya.

Akhirnya aku baca artikelnya dan ada satu paragraf yang menarik banget buat aku. Dia bilang, menurut tes dari PISA (Programme for International Assessment), nilai siswa Indonesia di bidang Sains, Membaca, dan Matematika itu umumnya jeblok, jangankan dibanding sama Singapura, orang lawan Vietnam yang GDP per kapita nya lebih rendah aja kita kalah. Salah satu hasilnya bilang bahwa dari 100 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah, cuma ada 25% yang bisa memenuhi standar internasional di bidang literasi dan berhitung setelah lulus.

Sekilas aku pernah denger tentang PISA, tapi baru hari ini aku cari tau lebih dalam. Jadi, PISA itu adalah sebuah tes yang mengukur pengetahuan kunci berfokus di bidang math, dengan tambahan penilaian minor di bidang science, reading, dan problem solving. Pembuat tesnya adalah OECD countries dan target tesnya adalah siswa sekolah menengah atas berumur 15 tahun di 65 negara di seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Keluaran dari OECD ini tidak diperuntukkan untuk penilaian individu partisipan, tapi dikelompokkan per negara.

Selain baca-baca tentang PISA dan hasilnya, aku juga coba cari soal yang diujikan. Aku bakal capture beberapa soalnya dan aku bakal mendiskusikan soalnya di sini. Btw soalnya akan tetep dalam Bahasa Inggris ya, aku gak sempet menerjemahkan  ke Bahasa Indonesia, tapi sebenernya kalau soal yang diujikan di masing-masing negara bakal disesuaikan dengan bahasa yang dipakai sehari-hari oleh siswanya ya.

Yang pertama bakal aku diskusiin adalah soal Sains tentang gunung meletus berikut ini :pisa-test-1Tipe soal ini membutuhkan kemampuan kognitif medium. Saya yakin pembaca saya rata-rata sudah berusia di atas 20 tahun lah ya. Ingat soal ini ditujukan untuk umur 15 tahun, jadi harusnya cukup mudah untuk Anda, kecuali Anda gak bisa Bahasa Inggris sama sekali. Intinya dari grafik itu kita harus tahu bahwa saat terjadi gunung meletus, maka paparan radiasi matahari turun drastis. Kemudian untuk kemungkinan penyebab fenomena tersebut adalah karena emisi dari letusan gunung yang biasanya menyelimuti selama jangka waktu yang lama, dan emisi-emisi tersebut entah menyerap atau merefleksikan radiasi matahari.

Soal ini adalah soal matematika yang lumayan unik menurut saya tentang meng-cross check pernyataan seorang reporter yang cenderung menakutkan.

pisa-test-2

Ini soalnya menurut saya sederhana tapi cakep banget. Jadi menurut seorang reporter, kasus perampokan di suatu daerah meningkat tajam dari tahun 1998 ke tahun 1999 dan dia memberikan kesimpulan ini berdasarkan grafik itu. Apakah menurut Anda pernyataan reporter ini masuk akal?

Soal ini bisa langsung diestimasi secara kuantitatif. Jadi pertumbuhan kasus perampokan ini dalam satu tahun adalah :

 (Tahun 1999 – Tahun 1998) = 516 – 508 = 8. Sedangkan kasus pertahunnya itu sekitar 500 kasus. Jadi 8/508, biar gampang ngitung kita bulatin aja jadi 10/500, hasilnya sekitar 0.02, atau 2%. Pertanyaan begini gak perlu dikerjakan dengan angka pasti. Dari hasil perhitungan kuantitatif ini, kita jadi bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwasanya kasus perampokan yang terjadi di tahun 1999 itu sebenernya gak signifikan sama sekali pertumbuhannya dibanding tahun 1998. Meskipun dari grafik tersebut kayanya ada selisih yang signifikan, tapi kalau kita liat dengan teliti sebenernya gambar tersebut memotong tinggi grafiknya dari nilai 0-500, sehingga kalau ditunjukkin ujungnya aja keliatan signifikan banget bedanya. Dan setelah menghitung sendiri, kita bisa dapatkan angka 2% itu.

Mari kita beranjak ke soal membaca. Yuhuuu!

Untuk soal membaca kali ini partisipan diminta untuk membaca 5 argumen yang dikemukakan oleh siswa sebuah sekolah dan kemudian menjawab soal yang berhubungan dengan soal argumen2 tersebut. Bahasa Inggrisnya agak sulit, tapi silakan menggunakan bantuan google translate kalau Anda butuh bantuan. hehe

pisa-test-3

pisa-test-4

pisa-test-5

pisa-test-6

pisa-test-7

Sekarang kita liat pertanyaan2nya.

Which of the following questions do the students seem to be responding to?

A.What is the major problem facing the world today?

B.Are you in favour of space exploration?

C.Do you believe in life beyond our planet?

D.What recent advances have there been in space research?

Bacaan di atas bertipe argumentasi dan aspek yang dinilai adalah bagaimana partisipan bisa mengintegrasikan dan menginterpretasikan dari bacaan yang cukup panjang, kemudian mengidentifikasi tema utama dari bacaan tersebut.

Jawabannya gampang banget ya, mereka semua mengungkapkan tentang apakah mereka setuju atau enggak sama riset antariksa, jadi yang B.

Kemudian pertanyaan kedua

Which one of the writers most directly contradicts Felix’s argument?

 

A.Dieter

B. Ana

C.Kate

D.Beatrice

Jadi, siswa mana yang argumennya paling kontras dengan argument Felix? Kata PISA, sepertiga siswa salah menjawab pertanyaan ini. Ternyata skill atau keahlian untuk menentukan sesuatu yang bermakna kontradiktif itu lebih sulit daripada yang bermakna serupa. Pembaca harus menelaah sendiri dan harus meneliti kembali argument masing-masing siswa lainnya untuk kemudian mengkategorikan mana yang saling bertentangan. Kita tahu kalau Felix punya pandangan positif terhadap riset antariksa, tapi untuk mencari jawaban soal ini, kita pertama harus mencari yang memiliki opini negative – dimana itu disampaikan oleh Ana dan Dieter, kemudian mencari yang poin-poinnya bener2 negasi dari argumentasi Felix – dan ini disampaikan oleh Dieter.

Mari lanjut ke pertanyaan selanjutnya :

Thinking about the main ideas presented by the five students, which student do you agree with most strongly?

Student’s name: ………………………………………..

Using your own words, explain your choice by referring to your own opinion and the main ideas presented by the student.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………….

Pertanyaan ini membutuhkan partisipan untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap teks serta mengekspresikan pengetahuan serta nilai-nilai personal mereka. Penilaian jawaban dibagi menjadi tiga tipe :

  1. Full Credit : Kalau partisipan bisa benar-benar memahami argumen siswa yang dipilih dan menjelaskan kenapa mereka setuju dengan siswa tersebut. Partisipan harus bisa menunjukkan salah satu atau beberapa argumen siswa yang dipilih dengan mengemukakan tambahan argumen pendukung atau menginterpretasikan ulang gagasan yang dipilih dengan kalimat mereka sendiri
  2. Credit 0 : Memberikan jawaban yang gak jelas atau tidak relevan atau malah memberi argument yang trivial. Misalkan menjawab : I agree with Felix because the hole in the ozone layer is a serious problem. Jawaban seperti ini terlalu berfokus pada satu detail yang tidak langsung berhubungan dengan space research.
  3. Kategori gak menjawab sama sekali. Ini parah.

Kemudian pertanyaan terakhir dari reading section meminta partisipan untuk mengategorikan apakah pernyataan2 di bawah ini termasuk opini atau fakta :

pisa-test-8

Nah, ini mesti teliti juga ya. Banyak lho orang yang belum bisa membedakan fakta dan opini.

Jadi jawabannya adalah Fakta, Opini, dan Opini.

Sekarang aku mau membahas soal-soal tersebut secara umum. Ternyata soal PISA itu bukan seperti soal UAN atau SNMPTN. Soal PISA cenderung sangat aplikatif. Soal matematikanya gak mengandung cacing-cacing integral, limit, trigonometri, dsb. Soal sainsnya juga gak minta kita buat menyebutkan semua nama tulang di tubuh manusia. Soal membacanya juga gak ada sama sekali membahas karya sastra yang bahasanya njelimet2. Bisa dibilang semua keahlian matematika, sains, dan membaca di PISA adalah sesuatu yang harusnya sudah terintegrasi dan terinstall di otak manusia berumur 15 tahun. Kalian gak perlu belajar buat mengerjakan itu. Sama sekali gak ada rumus atau hafalan, semuanya adalah common sense dan cukup dikerjakan dengan rational thinking.

Nah sekarang dari setelah semua partisipan dinilai dan dibuat rata-rata per negara, nilai masing-masing negara dikategorikan menjadi 6 kelompok : Level 1 (paling rendah) sampai level 6 (paling tinggi). Bagaimana hasil yang diperoleh Indonesia?

Nulis ini bener2 berat buat aku. Tapi ini harus kusampaikan. (https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf)pisa-test-9

Ya, Indonesia konsisten menduduki level terendah untuk semua bidang. Jadi masing-masing level ada penjabarannya. Tapi intinya untuk level 1 itu siswa yang berpartisipasi hanya bisa mengidentifikasi sesuatu yang familiar dengan hanya melibatkan maksimal paling 2 variabel, situasi yang dihadapi harus sederhana. Siswa hanya bisa memahami konteks kalau semua informasi disediakan. Skill riil maksimal yang bisa dieksekusi hanya berupa misalnya kemampuan membandingkan barang belanjaan mana yang paling murah dari beberapa supermarket dan beberapa merek.

Ini tambahan dari aku sendiri. Kalau dilihat dari contoh soalnya, kemungkinan besar siswa yang berada di level 1 gak bisa menginterpretasikan grafik di bidang sains yang aku tampilkan di atas. Mereka mungkin gak mengerti cara menghubungkan informasi antara axis x dan y, apalagi memprediksi penyebab logis dari fenomena yang belum pernah mereka dengar sebelumnya seperti turunnya paparan sinar matahari ke bumi. Untuk kasus perampokan, mungkin mereka gak bisa ngitung statistik sederhana dan gak punya standar pribadi berapa angka pertumbuhan yang signifikan dan yang gak signifikan untuk kasus seperti ini. Kemudian untuk soal membaca, kemungkinan mereka sudah ketakutan terlebih dahulu dengan bacaan yang cukup panjang dan mengandung unsur yang gak familiar sehingga terasa ‘horor’ seperti topik riset antariksa.

Sekarang aku pengen mengaitkan ini dengan situasi riil di Indonesia. Aku kemarin baru dapet broadcast di salah satu grup WA yang isinya begini.

 Fakta Aksi Bela Ahok 1911

 19 November 2014 -> Ahok dilantik sebagai gubernur DKI Jakarta

19 November 2016 -> Parade Bhinneka Tunggal Ika dalam rangka Aksi Bela Ahok

Dan ternyata 19 November adalah HARI JAMBAN SEDUNIA.

Ahok yang seringkali berkata ta* t*i pada akhirnya aksi bela ahok pun jatuh pada hari jamban sedunia.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini . (Kemudian ditambah link tentang hari Jamban sedunia dari merdeka.com)

Aku ini jarang banget aktif di grup apapun, baca isinya aja jarang, tapi kebetulan kemarin liat ada yang ngepos ini di salah satu grup alumni dan tertarik buat ngomentarin dikit. Contoh broadcast di atas adalah sesuatu yang aku yakin mencerminkan contoh pemikiran orang Level 1 PISA. Orang ini sama sekali gak berpikir di luar dua variabel Ahok dan Hari Jamban. Aku bilang ke dia, kasian juga ya orang-orang yang lahir dan menikah di tanggal itu, mereka berarti juga menikah dan lahir di Hari Jamban Sedunia (yang kesannya buruk), padahal mereka gak ngerti apa-apa. Orang ini cuma memasukkan faktor yang familier yaitu Ahok dan ditambah 1 faktor lagi yang menurut dia terkesan sangat buruk yaitu Hari Jamban. Kapasitasnya untuk mengaitkannya dengan situasi lain atau orang lain udah mentok.

Aku pengen gak terima terhadap hasil PISA yang bilang bahwa Indonesia cuma bisa dikategorikan ke level terendah. Namun, dari pengamatan sehari-hari di dunia maya, kelakuan orang-orang yang aku lihat beneran merepresentasikan penilaian PISA. Hal-hal yang diperdebatkan setiap detik saat ini hanyalah hal-hal yang familier seperti Agama dan Ahok. Agama jelas terus diperbincangkan karena sejak umur balita hampir setiap WNI sudah dikenalkan dengan agama, jadi topik ini menjadi topik yang sangat melekat di otak orang Indonesia. Ahok ini juga menjadi familier dan mudah diperdebatkan karena selalu disorot oleh media. Kemudian mereka juga terus menerus membahas hal-hal yang tidak relevan seperti broadcast WA aku tadi, atau bahkan hoax. Mereka tidak mampu untuk melihat satu isu secara terintegrasi dan hanya mengambil ulasan yang mudah. Ada foto dengan caption yang gampang dimengerti langsung dibagikan, ada penggalan transkrip video yang aneh langsung dikomentari, semua foto pembunuhan sekarang dibilang terjadi di Myanmar mentang-mentang Myanmar yang lagi populer. Aku sendiri paling males baca broadcast WA berita karena menurutku ini konyol banget. Budaya copy paste terjadi selain di ruang kelas (baca : nyontek), tetapi juga di kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan sepenuhnya setuju 100% sama isi broadcast itu, padahal gak ada tulisan atau presentasi atau ceramah atau kuliah yang sempurna dan selalu bisa dikritisi atau ditambahkan sesuatu yang bermanfaat. Kalau pun ada argumen yang berlawanan dengan kehendak mereka biasanya dijawab dengan sederet logical fallacy.

Oiya aku gak mau membahas politik di sini, yang aku mau bahas lebih kepada bagaimana masyarakat kita bersikap terhadap sebuah isu tertentu. Hal ini bukan hanya terjadi di ruang sosial media, tetapi juga di media massa seperti di televisi. Kalau kalian pernah lihat sinetron Indonesia yang ceritanya berputar-putar di kehidupan SMA, kehancuran rumah tangga, dan beberapa acara komedi yang isinya cuma bullying terhadap sesama komedian, kalian bisa lihat betapa dangkalnya konten acara-acara prime time tersebut, sama persis dangkalnya dengan bahasan sehari-hari di media sosial. Aku juga yakin kalian tahu salah satu penyanyi di Indonesia yang sangat terkenal yang suka ngomong gibberish alias gak masuk akal semisalnya semua kalimat dia disusupi kata manja sambil mendesah-desah. Aku gak pernah liat dia ngomong 15 menit aja, straight, tanpa ada kata-kata gak penting, masuk akal, dan runut secara logika. Gak usah deh ngomongin topik energi terbarukan, ngomong aja misalnya tentang perkembangan musik Indonesia setelah masa digital. Secara mendasar, fenomena TV dan sosial media sangat serupa dimana orang-orang cuma bisa ngomong sepenggal-penggal dan gak runut.

Nah, ada juga satu selebritis penyanyi dangdut yang pernah tunangan dengan seorang laki-laki yang sangat terkenal dengan isi pembicaraannya yang berantakan. Aku gak tahu gimana dulu waktu mereka bertunangan dan berkomunikasi satu sama lain. Mungkin mereka bukan hanya gak saling mengerti satu sama lain, tapi mereka sebenarnya juga barangkali gak tahu dengan apa yang mereka sendiri sedang bicarakan (sampe-sampe keduanya berurusan sama polisi). Ini semacam perdebatan panas di dunia maya yang mayoritas isinya adalah orang-orang Level 1 PISA vs Level 1 PISA – POINTLESS, HOPELESS, and ENDLESS.

Sekali lagi aku cuma berusaha untuk melihat permasalahan Indonesia secara mendalam dan menyeluruh, bukan cuma di permukaan. Kita masih punya banyak PR di bidang pendidikan. Jadi kata website asli PISA, dari keseluruhan siswa yang disampling di Indonesia tahun 2012, hanya 0,3% yang performanya bagus, 75,7% nilainya sangat rendah, dan sisanya rata-rata. Jadi hal ini selaras dengan kesimpulan yang diberikan The Economist. Mereka juga bilang untuk siswa yang bisa dibilang memiliki Scientific Literacy adalah siswa yang minimal ada di Level 2. Jadi selama ini kita selalu disuguhi orang yang berdebat sengit di depan umum padahal mereka ini gagap terhadap cara berpikir yang logis. Ini sama seperti melihat orang buta aksara tapi lantang membacakan buku ensiklopedia dunia.

Ini beneran bukan masalah preferensi politik atau pilihan agama atau kurangnya toleransi. Ini semua berakar dari tidak cukupnya pendidikan dasar kita untuk mempersiapkan rakyat Indonesia untuk siap berpikir dan berperilaku. Siapa yang salah? Mulai dari diri sendiri, orang tua, sekolah, guru, masyarakat secara umum, sampai pemerintah, semuanya ikut berkontribusi dalam situasi kelam kita saat ini.

Untuk saat ini aku beneran gak mau buat terlibat di perdebatan yang pointless. Aku sendiri lagi berusaha buat mengasah terus kemampuanku buat selalu ada di level 6 tingkat mahasiswa doktoral. Aku bahas ini karena aku suka banget dengan topik pedagogi dan pendidikan, jadi aku tahu kalo aku nanti balik ke Indonesia bisa berkontribusi kaya apa. Mungkin kalo suatu saat aku jadi dosen, sebelum mulai ke silabus utama, aku bakal ngajarin mahasiswaku buat punya skill yang setara level 6 PISA dulu. (http://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/PISA%20scales%20for%20pisa-based%20test%20for%20schools.pdf)

Sekian dulu tulisan dari saya. Semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman.

 

 

Salam hangat dari Southampton,

Sari

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Orang Indonesia Suka Berdebat Sengit Di Media Sosial?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s