Adakah yang Lebih Islami dari Orang Islam?

Saya mau memfollow up dari cerita terakhir saya di blog tentang rapat bareng beberapa institusi di luar Southampton. Ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini tapi bukan tentang konten rapatnya, karena itu highly classified. 😀

Waktu saya menerima undangan rapat itu, saya resah karena saya gak punya sepatu formal. Saya ke kampus sukanya pake sepatu kanvas teplek yang udah buluk harganya cuma 140 ribuan. Saya bingung banget mau beli sepatu yang kaya gimana. Pengen gitu pake sepatu yang ada haknya 7 cm, tapi takut ngejeblak. Terus beberapa hari sebelum rapat itu, saya ketemu supervisor saya yang perempuan. Terus saya liatin sepatunya dan saya foto diem-diem. Prof R ini sepatunya jeleeek banget. Kemarin pas rapat juga cuma pake tas punggung warna item. For Your Information, dear my beloved readers… Prof R ini, suaminya juga kerja di University Of Southampton, namanya Prof S, dan sepasang suami istri ini ada di satu grup riset yang sama. Bayangin ya pemirsah, mungkin mereka berdua itu bisa bergaji net di atas Rp 4 Milyar/tahun. Dan hebatnya, Prof S ini juga penampilannya 11-12 sama istrinya. Tiap hari kalo ketemu beliau gak pernah rambutnya itu disisir, selalu pake kaos berkerah doank ke kampus. Ibu Prof saya ini padahal kalo mau koleksi sepatunya Elie Saab kaya begini juga bisa loh, tapi kenapa beliau pilih sepatu buluk begitu? Beginilah bentuk alas kali profesor saya sehari-hari dibandingkan sama sepatu yang harusnya mampu beliau beli. 😦

elie saab shoesSepatu Butut Madame Prof vs Elie Saab

Saya dulu juga udah pernah cerita tentang supervisor saya yang laki-laki ya. Beliau itu gak punya HP pemirsah yang budiman. Terlepas dari kerangka peribadatan formal, saya pikir 2 supervisor saya itu bisa saya labeli memiliki karakter yang “ISLAMI” sekali. Hidupnya sederhana, memiliki akal yang cerdas, mampu memikul amanah yang berat, berkehidupan rumah tangga yang harmonis, selalu berlaku adil terhadap orang2 dengan beragam latar belakang, dan gak mendominasi segala sesuatu dengan harta. Saya pikir output orang-orang yang memeluk agama Islam dengan benar semestinya tergambar demikian. Sulit sekali mengasosiasikan Islam dengan orang yang gemar foya2, kerjanya serampangan, suka ngakalin orang, koruptif, songong, rumah tangga berantakan, apalagi paling ahli menjelek-jelekkan orang lain.

Saya juga bercermin pada diri saya sendiri setelah memperhatikan sepatu Prof saya itu. Semoga para hadirin sekalian masih ingat tentang isu panas kemarin di Indonesia mengenai paksaan untuk penutupan rumah makan saat siang hari waktu bulan puasa. Setahu saya yang sangat awam agama ini, untuk menjadi Muslim itu cukup melakukan 5 hal : Syahadat, Solat, Puasa, Zakat, dan Haji. Dari kelima aspek ini, ternyata syariat Tuhan ini kurang sempurna!

Untuk aspek ibadah Solat, Zakat, dan Haji, Tuhan ‘memberikan ruang’ bagi kita untuk memamerkan ibadah kita ini di depan orang lain (sebenernya sih kita yg mengklaim ruang tersebut). Solat berjamaah di masjid jelas dilihat oleh tetangga-tetangga kita “Wah liat tuh Pak A rajin banget ke solatnya, makanya usahanya sukses!” Terus zakat juga pasti at least ketahuan sama panitia zakat atau orang yg dizakati. Apalagi kalau zakat besar-besaran sampai orang-orang 1 kota ngantri depan rumah kita. Wah, gila keren abis kan? Apalagi haji, sebelum berangkat ada pengajian make tenda depan rumah, waktu berangkat yang nganterin 3 bis, waktu di Mekah foto2 tiap solat di masjid, waktu pulang bagi2 oleh2 buat orang sekampung. Bahkan untuk syahadat saja bagi yang baru masuk Islam biasanya disaksikan oleh sekelompok orang. Nah kalo puasa ini? Duh, Tuhan memang sepertinya kok bikin hukum yang satu ini dengan ‘kurang sempurna’ karena tidak memberikan ruang bagi kita untuk pamer. Coba cermati baik-baik, terkecuali seseorang bilang terang-terangan dia sedang puasa pada orang lain, maka tidak ada orang lain yang tahu kalau dia sedang menahan lapar dan sedang kehausan yang luar biasa. Kalau kita tidak upload foto makanan sahur atau kegiatan berbuka kita di media sosial, maka tidak ada yang tahu kalau kita berpuasa. Kenapa Tuhan ini membuat puasa sebagai satu-satunya ibadah yang sangat sepi???

Ada yang bilang bahwa pada suatu titik, manusia itu sudah hyperconnected satu sama lain. Bagi saya memang solat, zakat, dan haji itu mengkoneksikan kita dengan manusia lain dalam kerangka yang positif. Sedangkan puasa, alias menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal, itu sebagai sarana kita untuk menginjak rem yang luar biasa hebat. Contohnya seperti Profesor saya atau mungkin orang lain yang setipe dengan beliau, mereka menahan diri mereka untuk berfoya-foya dalam sepi. Masak iya pas pakai sepatu itu beliau cerita-cerita ke koleganya : “Eh gue kemarin gak jadi beli sepatu Jimmy Choo, terus malah beli sepatu yang murah ini aja. Hebat kan gue udah hidup sederhana…” Atau malah mereka bilang ke toko-toko di mal dan bilang “Eh lo jangan jualan sepatu yang bagus-bagus donk depan gue, atau kalo enggak lo kalo jualan ditutupin tirai biar gue gak kepengen beli… Gue kan harus jadi orang yang hemat dan sederhana. ” Hahaha…

Waktu itu saya pernah jalan di London sama serombongan orang kaya dari Indonesia. Yang pertama mereka cari adalah Iphone6, baju2 made in UK, aksesoris dari Cath Kidston yang katanya sering sold out di Indonesia, sepatu Tory Burch, dll. Akhir-akhir ini di TV artis-artis kita juga tiap hari diliput dengan kekayaan mereka yang luar biasa, semua barang bermerk, dan bahkan rumornya ada artis-artis tersebut yang cari duitnya dengan jual badan short time Rp 80 juta. Kalo dibandingkan dengan prof saya, beliau cari duit jelas halal dan dapetnya banyak banget, lebih lagi beliau ada di Inggris yang semua barang bermerk dari keluaran terbaru berserakan di toko-toko di pinggir jalan. Saya yakin lah, sebagai manusia normal pasti beliau juga pernah liat barang-barang bagus dan punya kecenderungan terhadap mereka. Tapi rupanya beliau lebih suka menahan diri dalam sepi. Bahkan untuk rapat yang penting pun, beliau tetap dalam kesederhanaannya. Beliau gak menampilkan gemerlap berlian sama sekali, beliau hanya menampilkan betapa kedalaman pengetahuan beliau yang lebih berharga dari berlian.

Kembali ke topik jam operasional rumah makan saat ramadhan. Seharusnya roda kehidupan orang Indonesia sehari-sehari berjalan seperti biasa saja. Orang yang menggempar-gemparkan isu RM tutup dan minta dihargai itu sama saja dengan orang yang memproklamirkan diri mereka akan berpuasa. “Liat ni gue mau puasa! Liat ni gue mau ngajarin anak gue puasa! Lo jangan buka resto lo donk, nanti gue atau temen-temen gue pada kepengen makan siang hari. Apalagi sama anak-anak yg baru belajar puasa, lo harus lebih toleransi lagi.” Pokoknya, sebisa mungkin orang Indonesia itu kalo melakukan sesuatu yang bagus orang lain harus tahu dan harus menghargai, kalo pihak lain bisa memuji itu lebih baik lagi.

Hal ini saya rasakan bener di Indonesia. Saya ini kalau berangkat ke kampus di Southampton, berusaha sebisa mungkin untuk berpenampilan sederhana saja. Saya berusaha terlihat biasa-biasa saja seperti teman-teman saya yang lain. Namun, ketika saya pulang ke Indonesia rasanya saya pengen show off, jadi yang paling keren. Entah mungkin karena di Indonesia penghormatan itu lebih didasarkan karena kepemilikan benda materiil, sedangkan di kampus saya jelas yang penting saya punya otak yg harus bisa berfungsi lebih dari normal untuk bisa dihargai, dan saya merasa itu fair. Saya merasa hidup di Inggris lebih aman, nyaman, damai, bahkan dihargai. Dulu waktu saya di Indonesia saya sering sekali mendapatkan perlakuan yang buruk bahkan masuk ke kategori bullying karena saya tidak berasal dari keluarga kaya. Bullying terhadap saya ini juga dilakukan oleh orang Islam dan justru orang-orang yang dekat dengan saya. Hmmm…

Semoga semua sifat Islami yang saya pelajari secara langsung dari teman-teman saya di sini, meskipun mereka bukan orang Islam, bisa saya tanamkan pelan-pelan ke diri saya sendiri. Saya lihat mayoritas memang begini sih. Dulu waktu di Belgia saya juga lihat orang lokal banyak bepergian dengan sepeda yang butut-butut. Bisa dilihat dari situs ini top 10 negara pengguna sepeda di dunia dan kebanyakan adalah negara-negara kaya di Eropa + Cina dan Jepang. Kalo ada penduduk di sini yang nggak jelas hidupnya itu prosentasenya mungkin kecil.

Merangkum dari semuanya : menurut saya puasa ini perlu lebih dimaknai dari sisi yang lebih esensial. Di kala penduduk Indonesia selalu protes bahwa penghasilan berkurang plus harga semakin mahal, herannya kita malah punya pengeluaran yang justru lebih banyak di bulan puasa ini. Selain platform material dalam kerangka berfoya-foya, platform immaterial untuk selalu pamer dan mempublikasi hal yang tidak penting seharusnya bisa ditekan juga. Mungkinkah kita ini tidak lebih Islami dari mereka yang tidak pernah mengerti ajaran Islam? Sekian dulu unek-unek dari saya. Semoga momen ramadhan ini bisa menjadi momen untuk menginjak rem kuat-kuat, merefleksi ulang mana hal-hal yang sebetulnya ‘halal’ dilakukan, tapi terkadang perlu untuk tidak melakukannya dan lebih memilih untuk menyepi sejenak.

Advertisements

One thought on “Adakah yang Lebih Islami dari Orang Islam?

  1. keren, saya suka dengan cara berfikir anda, membuat saya teringat akan kisah2 tentang tokoh2 yg selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. walaupun kisah2 itu selalu diwarnai oleh kesedihan diawal dan sebagian berakhir tragis. namun dimasa yang jauh kedepan melampaui beberapa generasi tokoh2 tersebut baru disanjung.

    keep move on, in right track.

    boleh saya minta sesuatu dari anda?

    saya ingin meminta anda untuk tidak berhenti memohon perlindungan dari Sang Maha Penjaga. Karena orang yg hidup dengan cara berfikir jauh berbeda dari kaumnya akan ditindas, namun selama berpegang pada “tali yang kuat” mesti diselamatkan.
    kesadaran bahwasanya diri tak memiliki satu kekuatan dan kuasa justru menjadi sumber dari sgala kekuatan dan kekuasaan.

    oh iya, sepertinya akun facebook anda sudah tidak bisa dibuka mengapa? padahal besar keinginan saya untuk bisa mengenal anda dan cara berfikir anda.

    semoga anda senantiasa dalam keselamatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s