Cerita tentang Dunia Riset

Dulu waktu saya SD, SMP, dan SMA, saya selalu dapet rangking 3 besar di sekolah. Malahan pas SMP saya selalu rangking 1 paralel (kecuali semester 6, saya rangking 2 paralel). Kalo waktu SMA sebenernya udah gak ada peringkat yang dipampang di buku rapor, cuma waktu itu saya boleh ikut PPKB Universitas Indonesia yang notabene hanya boleh diikuti oleh anak-anak top rank paralel di sekolah karena jumlah undangan yang sangat sedikit.

Saya itu gak dapet rangking cuma pas TK. Kenapa demikian? Jawabannya simpel. Karena saya dulu gak sekolah TK! Kenapa saya gak sekolah TK? Saya juga gak tau kenapa. Dulu waktu umur 4 tahun mana saya paham tentang arti penting pendidikan, jadi saya mah manut-manut aja gak disekolahin TK sama orang tua saya.. Saya pernah ngomong sama orang tua saya. “Ibu, kalo aku dulu sekolah TK mungkin aku sekarang kuliahnya di Harvard. Bwehehe..”

Kembali ke topik yang sesuai judul saya di atas. Jadi dulu waktu SD, rangking itu ditentukan dari jumlah nilai kita dari semua ujian dan tugas selama belajar 1 tahun di kelas dengan kurikulum yang telah ditentukan. Nilai akumulasi ini kemudian dbandingkan dengan semua murid di kelas dan muncullah siapa yang menduduki peringkat 1, 2, 3 dan seterusnya. Bytheway, biasanya siswa-siswa sebuah SD itu bertempat tinggal dari lokasi yang berdekatan dengan sekolahnya, paling beda kelurahan tapi masih dalam satu kecamatan. Jadi, kompetisi kecil-kecilan antara 45 siswa ini berada pada level kecamatan.

Waktu jaman saya, masuk SMP itu masih pakai tes. Jumlah SMP jelas tidak sebanyak SD. Oleh sebab itu, banyak orang tua yang rela mensekolahkan anak-anak mereka agak jauh asalkan mendapatkan SMP yang bagus. Jadi, waktu tes masuk SMP itu, kompetisi biasanya sudah menjadi level kota. Hasil ujian masuk SMPN 1 Pekalongan saya waktu itu dipampang di depan sekolah waktu pengumuman. Tinggal dilihat saja kamu rangking berapa dan apakah memenuhi kuota. Kalau tidak salah waktu itu kuota yang diterima adalah 200 murid. Jadi kalau kamu rangking 201 ya kamu gak bakalan diterima. Oiya, kalo pas tes masuk SMPN 1 Pekalongan ini hasilnya saya dapat peringkat 1 dari ratusan murid dari seluruh Kota Pekalongan dan sebagian kecil (sangat minor) dari luar kota. Saya masih ingat situasi hari pengumuman di tahun 2003 itu yang beneran bikin kaget.

Terus pas masuk SMAN 1 Pekalongan juga sama. Rangking kami dipampang di depan sekolah dan orang-orang yang rangking bawah pasti udah deg-degan karena mereka bisa jadi gak masuk kuota. Untuk itu mereka biasanya akan mencabut berkas aplikasi dan mendaftar ke SMA yang kompetisinya lebih rendah. Kalo pas masuk SMA ini kayanya saya peringkat 3. Situasi di SMA ini bisa dibilang lebih majemuk ketimbang SMP karena banyak murid-murid brilian yang mendaftar dari luar kota Pekalongan. Jadi level kompetisi waktu SMP sudah mencapai hampir beberapa kota dan kabupaten.

Kompetisi sudah jauh lebih meningkat menjelang akhir masa SMA karena akhirnya kami harus bersaing dengan murid SMA seluruh Indonesia untuk mendapatkan kampus2 terbaik yang jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan jumlah para lulusan SMA. Setidaknya untuk kampus-kampus sekelas Universitas Indonesia, kamu bisa ketemu mahasiswa dari seluruh provinsi di Indonesia. Terus pas saya S2 di UI juga, kompetisi sudah bukan lintas regional lagi, tapi sudah lintas usia dan background. Banyak teman saya yang sudah punya anak, bahkan ada yang sudah punya anak 5. Banyak juga yang sudah punya pekerjaan tetap seperti peneliti di pemerintah atau dari industri-industri besar di Indonesia. Mungkin yang baru lulus dan mau daftar kerja juga merasakan kompetisi semacam ini karena kompetitor bisa datang dari mana saja dengan bermacam latar belakang. Pekerjaan itu bisa bermacam-macam dan sebenarnya S3 ini bisa diklasifikasikan seperti pekerjaan-pekerjaan profesional pada umumnya karena universitas mengharapkan dedikasi total dari kami untuk dapat menyelesaikan sebuah proyek riset.

Nah, kembali ke topik pembahasan kompetisi dan rangking. Dalam dunia riset, tidak ada lagi batasan untuk menentukan siapa berkompetisi dengan siapa dan dapat rangking berapa. Seluruh ilmuwan di dunia ini bagaikan duduk dalam satu kelas bernama Planet Bumi dan mengerjakan sebuah ujian bersama. Tidak ada kurikulum yang melingkupi kami, tidak ada pula standar yang pasti mengenai target pencapaian dalam riset, sangat berbeda dengan semasa kita kuliah S2, S1, apalagi SD, SMP, dan SMA. Para ilmuwan ini berlomba-lomba untuk selalu menemukan, menginovasikan, atau menciptakan terobosan sesuai bidang keilmuan mereka.

Kemarin saya ditugaskan untuk mengkoreksi tugas mahasiswa tentang sel surya. Salah satu mahasiswanya memasukkan grafik ini dalam tugas kajian pustaka mereka dan saya lihat informasi ini sangat menarik.

https://i0.wp.com/www.nrel.gov/ncpv/images/efficiency_chart.jpg

Gambar 1. Perkembangan riset sel surya (buat memperbesar : klik kanan – view image )

Ini adalah grafik perkembangan riset sel surya berbagai tipe sejak tahun 1975 – 2015 yang dilakukan oleh institusi riset dari seluruh dunia. Hasil utama yang dijadikan pembanding adalah keluaran efisiensi sistem. Coba hitung berapa banyak institusi yang melakukan riset sel surya di grafik tersebut? Dari sekian banyak perusahaan dan universitas yang terlibat itu, mereka berkompetisi tanpa henti untuk terus mendorong efisinsi sel surya, dan kompetisi ini sudah berlangsung selama 40 tahun!

Bagaimana cara para peneliti-peneliti ini bergerak maju? Misal tanggal 15 April 2015 efisiensi tertinggi untuk solar cell tipe Quantum Dot Cell (grafik paling bawah warna merah), dicapai oleh Profesor A dari University of Toronto dengan nilai 9,9%. Kemudian Profesor B dari MIT yang baru bisa mencapai 8% akan berusaha agar bisa dapat efisiensi lebih dari 9,9% dalam jangka waktu misal 1 tahun dengan modifikasi teknologi tertentu dari riset Prof A. Eh tapi ternyata setelah 5 bulan, ternyata Dr. C dari NREL sudah bisa membuat yang efisiensinya 10,5%. Dan setelah 1 tahun itu ternyata Prof B dari MIT hanya bisa mencapai 10,1%. Itu artinya MIT kalah saing sama NREL dan harus cari modifikasi lain dalam jangka waktu yang benar-benar tidak diketahui agar bisa tetap selangkah lebih maju dari peneliti-peneliti dunia lainnya. Begitu terus sampai grafik di atas itu naik dan tembus keluar layar HP atau laptop kalian sekarang.

Ujian yang dihadapi para peneliti itu sangat kompleks, biasanya berkaitan dengan permasalahan dunia yang terjadi di masa depan, bukan seperti UAN yang pilihan berganda. Kemudian dari ujian ini mereka berusaha menyelesaikannya dengan membuat penelitian bertahun-tahun. Kertas jawaban para peneliti dari ujian ini bisa berbentuk Jurnal Penelitian atau publikasi di konferensi. Publikasi-publikasi ini diunggah ke para asosiasi penerbit jurnal. Jurnal-jurnal ternama biasanya sangat sulit untuk ditembus. Proses penilaian sangat ketat dengan para penguji kelas dunia yang sudah sangat kompeten di bidang tersebut. Hasil-hasil jurnal yang dipublikasi akan bisa dibaca oleh peneliti seluruh dunia. Jika hasilnya memang bagus, maka hasil tersebut akan dijadikan acuan (disitasi) untuk dasar pengembangan keilmuan selanjutnya. Peneliti-peneliti yang banyak disitasi akan punya nilai yang besar, biasanya disebut dengan istilah h-index. Daftar publikasi dan H-index peneliti ini bisa dicek dari Scopus atau Google Scholar.

Saya sendiri sekarang sedang melakukan riset yang sangat baru untuk metode karakterisasi material. Metode karakterisasinya adalah kombinasi Scanning Electron Microscope dan Digital Image Correlation. Digital Image Correlation baru berkembang secara komersil sekitar 10 tahun terakhir. Untuk kombinasi SEM-DIC bahkan belum ada yang komersil. Kalau material yang saya teliti sekarang paduan super nikel generasi ketiga untuk mesin jet pesawat terbang. Saat ini saya masih berkutat dengan material LSHR dari NASA, tapi untuk tahun depan saya akan pakai material RR1000 dari Rolls Royce. Material-material yang saya pakai ini juga masih sangat baru dan belum diaplikasikan untuk teknologi pesawat komersial. Jadi, baik metode karakterisasi maupun material yang saya pakai keduanya sangat terkini.

Profesor saya ingin agar metode pengujian in-situ menggunakan SEM-DIC ini menjadi standar pengujian mekanis berbagai material skala mikro. Ini seperti kalau ada pasien yang mengalami patah tulang, maka pasti dia akan diuji foto X-Ray oleh dokter atau rumah sakit tempat dia dirawat. Kami juga ingin agar metode kami menjadi metode yang suatu saat nanti pasti akan digunakan para peneliti maupun industri jika mereka ingin menguji material yang rusak. Selain itu kami juga ingin mengembangkan formulasi kerusakan mode fatik khususnya di paduan super nikel generasi terbaru ini. Oh iya, selain berupa produk seperti sel surya, penemuan bisa juga berupa postulat atau teori.

Yang saya tahu, ada 3 universitas lain yang sudah menggunakan SEM-DIC juga, yaitu University of South Carolina, University of Michigan Eindhoven University of Technology, dan Manchester Institute of Technology. University of Southampton adalah salah satu kampus dengan riset Engineering terbaik di Inggris, dan kebetulan profesor saya yang laki-laki adalah salah satu pionir di bidang pengujian mekanika eksperimental menggunakan sistem pencitraan sedangkan profesor saya yang perempuan pionir di bidang kegagalan material pesawat terbang. Dari ketenaran mereka ini, sungguh sangat dipastikan mereka tidak mau saya membuat riset yang jelek kan? Mereka adalah orang-orang yang tingkat kompetisinya sudah level internasional. Jadi, mau tidak mau saya harus berusaha mengikuti ritme mereka.

Oya, ada yang bilang kalau memilih PhD itu nama istitusi seharusnya dipertimbangkan belakangan setelah kualitas supervisor. Karena seperti yang saya bilang di awal, bumi ini seperti ruang kelas yang sangat besar dan soal ujian yang diberikan sangat kompleks. Untuk menyelesaikan soal ujian itu, kita harus duduk dengan orang yang bisa membantu kita menyelesaikannya, dan mereka adalah supervisor kita. Namun memang perlu diingat bahwa biasanya peneliti yang bagus memang bekerja di universitas atau institusi yang bagus juga.

Dulu, jaman SD saingan saya cuma satu kelurahan. Sekarang saya sudah terkena dampak globalisasi zaman, dihimpit oleh para peneliti dari puluhan negara lain yang juga sama-sama ingin memajukan ilmu pengetahuan. Akankah saya tetap berdiri tegar ataukah saya akan terseok-seok terlindas kejamnya dunia? Haha.. Saya harus berpacu dengan waktu. Yang utama adalah, saya akan menjadi sangat kompetitif sekarang ini. Bahkan beasiswa saya tidak diberikan dengan basis kontrak selama PhD di Southampton. Beasiswa Schlumberger saya harus terus diperbaharui setiap 1 tahun dan beasiswa Roberto Rocca saya harus diperbaharui setiap 2 tahun. Kalau saya tidak cukup bagus, saya tidak akan bisa tetap tinggal di sini dan harus tereliminasi! Saya tidak punya pilihan selain berlari maju. Kalau tidak demikian saya akan kelaparan dalam artian yang sebenarnya. Huhuhu…

REF 2014 - Home - 500

Gambar 2. REF UK 2014

Bagusnya si kalo di Inggris, atmosfir risetnya memang mantab. Dari 191 ribu jurnal, 30% nya dianggap world leading (udah yang paling mutakhir di antara peneliti-peneliti dunia dan banyak dijadikan referensi), sedangkan yang 46% internationally excellent (gak begitu mutakhir tapi masih banyak disitasi). Jadi 76% dari output riset dari negara ini peringkatnya sangat bagus di mata dunia. Nah orang-orang yang ada di lingkaran bintang 3 dan bintang 4 itulah yang akan menikmati penghargaan yang besar dari pemerintah. So, saya berharap banget Indonesia bisa punya banyak peneliti level bintang 3 dan bintang 4 juga supaya negara kita bisa lebih diakui sebagai negara intelektual. Aaamiin.

Oke, whatever you do now, wherever you are, selamat beraktivitas.. Saya harus melanjutkan tugas-tugas saya disini. Sampai jumpahh teman-teman.. *kiss*

 

Advertisements

6 thoughts on “Cerita tentang Dunia Riset

  1. mbak sari dimana kita bisa mendapatkan sumber-sumber jurnal utk referensi penelitian UK, agar kita bisa tau sejauh mana penelitian mereka tentang suatu bidang di sana. suwun

    1. kalo pengen lihat progress secara utuh bisa baca jurnal yang tipenya review papers.. bisa dicari di Web Of Science – Thomson Reuters, Sciencedirect, JStor, Wiley, dll. Tapi kalo yang bikin grafik kaya punya NREL jarang banget.
      Semoga membantu 🙂

  2. saya salut sama mbak dan salut juga sama orang tua mbak, yang mampu membawa sampai sekarang . saya yakin bukan uang tapi lingkungan keluarga yang mendukung sehingga anda mempunyei pola pikir yang bagus.
    semoga anak saya punya pola pikir seperti mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s