Seberapa Rendah Kualitas Pendidikan di Indonesia?

1-55d9e4e6a2afbdc30b659725-56bbc5b3719373a90ec7174a

Untuk para pendidik, guru, dosen, orang tua, dan orang-orang yang peduli dengan pendidikan Indonesia, silakan baca summary saya ini pelan-pelan (artikel lengkapnya bisa dibaca di sini.)

Penelitian dari OECD-PIAAC menyatakan bahwa kemampuan baca tulis mayoritas orang Jakarta yang lulusan S1 ternyata lebih rendah levelnya dari kemampuan baca tulis warga Yunani dan Denmark yang cuma lulusan SMP. Penilaian dari OECD menggunakan level 1 (paling rendah) sampai level 5 (paling tinggi). Sebanyak 69% orang Jakarta tingkat literasinya berada pada atau di bawah level 1, cuma 0,5% pada level 4, dan tidak ada yang menduduki level 5 (mungkin ada sih, tapi 1 dari 10.000 penduduk). Continue reading

Advertisements

Remah-Remah Biskuit Kong-Ghuan

Pertengahan tahun 2017 ini, barengan sama 1 PostDoc dan 2 profesor pembimbing, kami menerbitkan sebuah jurnal internasional. Saya pengen banget ngeblog/nulis lebih jauh tentang jurnal ini, tapi saya masih kagok. Udah dari Juni lalu jurnalnya terbit, tapi sampe sekarang otak saya belum selesai memproses kenyataan ini.

Bukannya bangga sama diri saya sendiri, saya malah minder berat, saya merasa kecil sendiri, berasa anak bawang, remah-remah biskuit kong-ghuan. 5 tahun yang lalu, keadaan saya masih sangat buruk. Saya hampir gagal bayar uang kuliah, sampe harus dibayarin sama BEM FTUI. Hidup waktu itu sangat sulit. Bahkan, saya cuma punya sepatu 1 pasang, gak bisa beli sepatu baru. Baju saya juga hampir semuanya lungsuran orang. Sebenernya sejak kecil saya hidup kaya gini. Banyak orang memandang saya dengan sebelah mata karena (keluarga) saya dianggap tidak berharga secara finansial. Continue reading

Current Reading – The Big Picture by Sean Carroll

Buku ini ditulis oleh theoritical physicist dari Caltech, lulusan Astronomy & Astrophysics Harvard. Buku ini lumayan baru, terbitan tahun 2016, dan jadi buku #1 bestseller di Amazon untuk bidang Physics and Cosmology.SB-26.3-Nogueira
 
Baca buku ini saya lumayan pengen muntah-muntah, hehehe. Sampai sekarang juga belum selesai, tapi saya sudah dapat mengerti inti argumen. Jadi Sean Carroll ini mempromosikan ideologi ‘Naturalisme’ yang ujungnya mengarah ke Ateisme. Inti dari Naturalisme adalah : There is nothing above and beyond the natural world, a.k.a tidak ada dunia supernatural, tidak ada makhluk halus, tidak ada dunia setelah kematian, dsb.
 
Pernyataan ini berlandaskan dari Quantum Field Theory dimana teori ini mengungkapkan perspektif yang utuh tentang dunia subatomik (meliputi quarks, electrons, neutrinos, families of fermions, electromagnetism, gravity, the nuclear forces, & the Higgs). Dari semua entitas tersebut, terciptalah sebuah teori yang disebut Core Theory atau Teori Inti yang mendikte hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita. Teori ini sudah diuji dengan berbagai macam eksperimen dan terbukti tepat, formula Core Theory (yang level kesulitan Fisikanya adalah level Master/Doktor) dianggap sudah pas untuk mendeskripsikan bagaimana partikel-partikel tersebut berperilaku pada energi sehari-hari.
 

Continue reading

Mummy Gives Me Cocaine

I have just written this short story about a person I know whose life is exteremely contrast compared to mine. It’s been hard to picture her life in this perspective previously. Unlike me, I thought she lived a happy life, turned out she is just f-in high. This is the moment I let go of what haunted my mind all this time. Off you go, the ghost of my life..
 
(Anyway, thanks for giving me this difficult exam to solve for the last 25 years.)
———————————————–
-Mummy Gives Me Cocaine-
 
I am a girl who lives in a privileged family
Whatever I want, mummy always grants my wishes
Delicious food? Check
Warm and comfy bed? Check
Pretty branded clothes? Check
New sporty car? Check
Travelling to USA? Check, UK? Check, New Zealand? Check, Thailand? Check, China? Check, Korea? Check
You know what, mummy can even buy people’s mouths so that they never say bad things about me!
 
Mummy always gives me this kind of cocaine
Mummy keeps me high all the time
I don’t know what poverty means
I don’t know what pain means
I don’t know what suffering means
Basically, I don’t know what life is
I don’t have any idea of how to live a life
Because I have only seen this imaginary world built by mummy
A world where I don’t have to earn anything for my family
I don’t need to work during the day to buy a plate of rice for my dinner
I also don’t have to find a partner who needs to struggle in life with me,
and I don’t think I can maintain any kind of relationships either
People say relationships can be tough and painful, so why would I want that?
 
I am just Mummy’s beautiful little princess who should not get any kind of scars in life
I should stay inside this castle of hers
I believe Mummy will never stop giving me cocaine
I will be high forever and ever…
 
-the end-
 
——————————————————-
(FYI, I am not a great English writer and I can never be poetic.)
Southampton, 29th of January 2017

Kenapa Orang Indonesia Suka Berdebat Sengit Di Media Sosial?

Halo semuanya, udah lama nih aku gak ngeblog. Kali ini, blog ku bakal mengangkat topik yang lagi-lagi diangkat dari salah satu artikel dari The Economist. Buat para pembaca yang setia mungkin masih inget kalo dulu salah satu tulisanku ada yang mengangkat isu dari majalah The Economist juga.

Nah, sekarang aku mau membahas tentang sebuah artikel The Economist yang membahas pendidikan di Indonesia dengan tanggal terbit 13 Desember 2014. Kalimat pertama di bawah judulnya langsung bikin geregetan banget : Indonesia’s schools are lousy. Begitu katanya.

Akhirnya aku baca artikelnya dan ada satu paragraf yang menarik banget buat aku. Dia bilang, menurut tes dari PISA (Programme for International Assessment), nilai siswa Indonesia di bidang Sains, Membaca, dan Matematika itu umumnya jeblok, jangankan dibanding sama Singapura, orang lawan Vietnam yang GDP per kapita nya lebih rendah aja kita kalah. Salah satu hasilnya bilang bahwa dari 100 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah, cuma ada 25% yang bisa memenuhi standar internasional di bidang literasi dan berhitung setelah lulus.

Sekilas aku pernah denger tentang PISA, tapi baru hari ini aku cari tau lebih dalam. Jadi, PISA itu adalah sebuah tes yang mengukur pengetahuan kunci berfokus di bidang math, dengan tambahan penilaian minor di bidang science, reading, dan problem solving. Pembuat tesnya adalah OECD countries dan target tesnya adalah siswa sekolah menengah atas berumur 15 tahun di 65 negara di seluruh dunia, salah satunya Indonesia. Keluaran dari OECD ini tidak diperuntukkan untuk penilaian individu partisipan, tapi dikelompokkan per negara. Continue reading

Brian Tyler dan Mesin Waktu

Pengalaman menyaksikan langsung sebuah konser musik adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya, dan ketika pertama kalinya saya melihat sebuah karya seni musik orkestra dihadirkan dalam hidup saya, pikiran saya bergelayut ke banyak memori di masa lalu. Memang musik seringkali bisa menjadi mesin waktu yang membawa kita ke tempat-tempat dan momen-momen berharga yang pernah kita lalui. Musik bisa menjadi sesuatu yang spiritual, bisa membuat kita bersemangat, berkobar, bergelora, tapi ia juga bisa membangkitkan perasaan duka, pilu, atau memunculkan ingatan yang mengharu biru.

Cerita ini bukan hanya tentang detik ketika saya duduk di Royal Festival Hall dan melihat bagaimana seorang musisi bernama Brian Tyler, memimpin Philharmonia Orchestra untuk memainkan beberapa karya Original Sound Track (OST) yang digarapnya untuk film-film kenamaan hollywood seperti The Expendables, Fast and Furious, Iron Man, Thor, Now You See Me, dsb.

Pikiran yang berkecamuk di otak saya sekali lagi bukan hanya tentang waktu 2 jam yang saya habiskan tepat di barisan pertama depan panggung untuk mendengarkan instrumen-instrumen musik yang melantunkan banyak lagu yang luar biasa dahsyatnya. Apa yang saya rasakan lebih kepada proses 7 tahun perjalanan saya hingga saya bisa mencapai 2 jam episode tersebut.

5.1.2
Interior Royal Festival Hall, London

Saya teringat pada perjalanan saya yang dimulai 7 tahun yang lalu, tepatnya semenjak tahun 2009. Episode tersebut merupakan episode yang dipenuhi dengan rasa tidak menyenangkan. Alam semesta saat itu sepertinya hanya punya hidangan yang rasanya teramat sangat pahit untuk saya makan.

Malam kemarin ketika saya duduk dan mendengarkan alunan musik orkestra kemarin, jiwa saya seperti diantarkan ke sebuah tempat yang sangat sering saya datangi saat petang menjelang di masa lalu. Pada saat itu, saya tidak pernah menyangka kalau tahun 2016 ini saya akan berada di ibukota kerajaan Inggris dan bisa duduk di dalam Royal Festival Hall. Yang saya tahu malam itu saya harus melakukan perjalanan dari Pekalongan ke Depok dengan menggunakan bis ekonomi yang susunan kursinya 3-2. Saya sering sekali melakukan perjalanan sendiri dari rumah orang tua saya di Pekalongan menuju ke tempat saya belajar di Universitas Indonesia, Depok, semenjak awal kuliah saya tahun 2009 sampai saya lulus S2 di tahun 2014. Saat waktu libur habis, saya harus kembali berkelana ke ibukota seorang diri untuk menuntut ilmu. Tiket bis yang seharga Rp 50 ribu itulah yang orang tua saya mampu belikan untuk saya. Kemudian saya juga biasanya dibekali dengan nasi goreng yang harganya hanya Rp8 ribu untuk saya makan di tengah perjalanan. Biasanya saya naik bis Sinar Jaya, entah dari tempat agennya di sebuah pasar bernama Pasar Grogolan, atau di terminal bis Pekalongan. Seperti yang kita tahu kalau bis berbangku 3-2 adalah sarana transportasi umum yang biasa digunakan oleh rakyat kecil. Orang-orang yang berkecukupan biasanya akan lebih memilih naik kereta kereta bisnis/eksekutif atau moda-moda angkutan umum lain yang lebih nyaman atau bahkan menggunakan mobil pribadi. Angkutan bis memang sangat tidak nyaman, bukan hanya saat di bisnya, tetapi juga saat menunggu jam keberangkatan. Para penumpang tidak diberikan kursi yang cukup sehingga banyak yang harus duduk atau berdiri di emperan toko. Tidak menyenangkan, tidak nyaman, tapi harus saya terima.

Oh iya, ada satu hal yang sangat ‘menarik’ dengan bis sinar jaya Pekalongan-Depok ini. Di tengah perjalanan, biasanya bis ini akan berhenti di Indramayu untuk supir beristirahat dan penumpang bisa ke kamar kecil atau makan. Setelah berangkat kembali dari istirahat, akan ada 1 orang penyanyi dangdut wanita yang ikut naik ke dalam bis. Orang ini akan menyanyikan 3 lagu dangdut menggunakan microphone dan diiringi musik yang sangat keras dari radio tape yang dibawanya. Lagu yang biasa dibawakan sangat identik dengan lagu dangdut pantura yang lazimnya mengisahkan tentang kenestapaan wanita yang disakiti oleh laki-laki, misalnya karena suaminya suka mabuk, judi, atau berselingkuh. Setelah selesai mengamen selama kurang lebih 15 menit, penyanyi dangdut tersebut akan mengedarkan kaleng untuk mengumpulkan uang dari para penumpang yang terkantuk-kantuk. Kemudian setelah selesai, pak supir bis akan menepi dan menurunkannya di pinggir jalan. Dalam otak saya, memori tentang penyanyi dangdut ini sangat melekat kuat karena puluhan kali saya pulang pergi Pekalongan-Depok menggunakan bis saat liburan kuliah.

Kemarin saat duduk di gedung konser, jiwa dan tubuh saya seperti terjerembab ke momen saat saya berada di dalam bis malam itu. Saya membatin dan berbisik, mungkinkah ini semua hanya mimpi dan sebenarnya saya masih duduk di dalam bis Sinar Jaya mendengarkan musik pantura, bukannya di Royal Festival Hall mendengarkan orkestra?

Lima tahun saya menikmati kursi yang sempit di dalam bis-bis itu. Lima tahun saya mendengarkan raungan lagu luka lara para penyanyi dangdut. Namun, kemudian saya rasakan gravitasi menarik saya kembali ke tempat saya di Royal Festival Hall perlahan-lahan. Bertahun-tahun saya hidup penuh dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan. Setelah banyak menyesap minuman yang sangat pahit, saat ini semesta mulai menyuapi saya dengan sesuatu yang manis. Saya menikmati kembali kesyahduan dan juga gelora semangat dari karya-karya Brian Tyler. Dari duduk di dalam bis yang sempit, menjadi duduk di barisan depan RFH London. Dari mendengarkan lagu-lagu yang penuh kenestapaan dengan iringan rekaman tape, sekarang saya mendengarkan lagu-lagu yang dibuat oleh seorang maestro untuk film-film terkenal dan dimainkan oleh the Philharmonia Orchestra. Dari yang tadinya naik bis bersama dengan sesama rakyat biasa, sekarang saya duduk satu ruangan dengan produser Now You See Me. Ini pencapaian besar untuk saya.

Banyak sekali hal yang berubah dan tidak pernah saya rencanakan di masa lalu. Sebelum saya ke RFH, siang harinya saya mampir ke Restoran Nusa Dua di tengah kota London. Restoran yang cukup mewah dan menyajikan menu Indonesia yang luar biasa nikmatnya. Lagi-lagi, dahulu saya hanya beli nasi goreng di dekat rumah sebelum saya berangkat ke Depok, tetapi sekarang saya bisa makan di tempat yang nyaman di tengah kota London. Kemudian, sembari menunggu mulainya acara, saya berjalan-jalan di Natural History Museum, London Eye, dan Big Ben. Kembali saya bernostalgia kalau dahulu saya hanya bisa menunggu di emperan toko. Setelah semua hal di masa lalu yang seringkali terasa pahit, semua pengalaman kemarin terasa amat sangat manis dan saya resapi dan nikmati dengan sepenuh hati. I am not taking it for granted.

13198606_10207645554995436_7695290659523372425_o
Natural History Museum, London

Sekali lagi ini bukan 2 jam pertunjukkan. Ini adalah 7 tahun perjalanan yang dipenuhi pengalaman yang begitu tidak terduga!

Selain itu, Brian Tyler bukan sekedar artis yang berbakat bagi saya, tetapi juga sangat menginspirasi secara personal. Saya sangat kagum dengan orang-orang yang matanya memancarkan api kehidupan yang membara yang seakan-akan tidak akan pernah padam sampai ajal menjemput. Totalitasnya sebagai seorang musisi membuat saya ingin bekerja keras meningkatkan kualitas diri saya saat ini. Saat diwawancarai di BBC, ia berkata kalau sebelum memutuskan siap merekam lagu dengan orkestra untuk sebuah film, ia biasanya menonton film tersebut sampai 200 kali. Makanya hasilnya luar biasa.

Ia juga sudah mulai menulis lagu tema saat usianya 12 tahun. Pada saat itu dia iseng menulis 6 bar lagu untuk novel Children of Dune yang sedang dibacanya. Kemudian beberapa puluh tahun kemudian, pastinya tanpa disangka-sangka, ia dikontrak untuk membuat theme song Children of Dune, dan kemudian mengikutsertakan 6 bar lagu yang dahulu kala pernah ia tulis ke dalam produksinya yang sekarang. Kemarin saat di konser juga ia berterima kasih pada orang tuanya yang hadir karena katanya orang tuanya selalu mendukung Impian Gilanya – atau yang dia sebut sebagai “Crazy Vision” sejak dulu.

Kata-kata Crazy Vision ini kemudian menjadi sesuatu yang melekat di benak saya. Mungkin sekarang ini saya perlu mencanangkan impian gila yang perlu saya kejar untuk jangka waktu panjang. Toh sejak kecil saya sudah hidup tidak dengan cara yang biasa-biasa saja.

Saya ingat dulu waktu ada semacam training ESQ di SMA, saya tuliskan saya mau jadi peneliti nanoteknologi dan ternyata tercapai keinginan saya menjadi peneliti meskipun di bidang pesawat terbang. Padahal waktu itu saya juga tidak begitu paham apa itu peneliti dan bagaimana caranya jadi peneliti.

Dulu waktu SMA, saya hanya ingin jadi mahasiswi S1 UI (dimana ini sudah sangat berbeda dengan yang lain karena jarang murid SMAN 1 PKL yang kuliah di UI), tapi ternyata saya juga dapat S2 gratis, dan saya bolak-balik ke kantor Rektor UI karena Prof Anis adalah pembimbing tesis saya. Waktu pertama kali mendaftar PPKB, saya tidak pernah membayangkan bisa kenal dan ngobrol-ngobrol secara personal dengan rektor Universitas Indonesia. Bagi saya, ini pencapaian tersendiri.

Dulu waktu SMP saya ingin sekolah SMA di luar negeri, tepatnya Singapura, tapi ternyata saya ke luar negeri malah untuk kuliah S3 di Inggris. Dari Singapura malah melenceng ke Inggris. Meski terlambat 8 tahun, tapi SMA jadi S3!

Saya dulu berencana untuk mengejar beasiswa dari STUNED atau Erasmus Mundus, eh malah saya dapat dari Schlumberger, Tenaris, dan Southampton. Awal ingin cari 1 beasiswa berbasiskan mata uang Euro, malah jadi 3 beasiswa dan saya mendapatkan US Dolar dan Poundsterling.

Dulu saya berkeinginan agar waktu umur 20 tahun, tulisan saya bisa dibaca 10,000 orang, ternyata tulisan-tulisan saya sampai saat ini sudah dibaca lebih dari 150,000 orang. Padahal saya tidak pernah belajar menulis secara formal.

Dari sekian banyak rencana saya, ternyata banyak yang melebihi ekspektasi. Meski seringkali di awal saya tidak punya bayangan bagaimana mencapainya, ternyata ada saja ‘keajaiban’ yang datang silih berganti setiap waktu.

Untuk itu, saat ini saya akan menuliskan apa yang saya ingin capai di masa depan :

Impian gila saya selanjutnya adalah menuliskan kisah-kisah saya kemudian membuat film dari kisah tersebut, dan meminta Brian Tyler untuk membuat musiknya. Semua ini akan saya lakukan dalam jangka waktu 15 tahun lagi.

Ya, benar! ini adalah visi saya dalam jangka panjang. Saya ingin membuat naskah film berdasarkan kisah-kisah saya dan Brian Tyler yang mengisi soundtracknya! Saya tidak peduli siapa aktor atau aktrisnya, yang penting composernya Brian Tyler.

Salah satu lagu yang paling saya suka dari konser kemarin adalah lagu OST Far Cry berjudul Further.

Saya bisa membayangkan di pikiran saya kalau lagu seperti ini akan sangat cocok dijadikan lagu penutupan film saya nanti sambil memberikan kilas balik seperti di scene terakhir film The Theory of Everything (Film tentang Hawking).

7 tahun ini saya bergerak dari 0 menjadi sesuatu. Untuk itu saya percaya kalau dalam 15 tahun, saya akan bisa mendapatkan yang lain lagi. Brian Tyler sejatinya hanyalah visualisasi kesuksesan. Karena untuk membuat Brian Tyler mau menciptakan musik untuk kisah saya, maka berarti dalam 15 tahun ke depan saya harus benar-benar bekerja keras untuk bisa membuat kisah yang memang layak untuk ditonton oleh Brian Tyler 200 kali.

Ini memang terdengar gila, tapi dari track record saya, sepertinya ini bukan utopia. Semoga 15 tahun lagi saya sudah berada di state yang jauh lebih baik dari sekarang, dan saya akan kembali duduk di mesin waktu dan mengingat hari-hari yang saya lalui saat ini.

Sekian yang bisa saya tuliskan. Saya akan terus berkerja keras untuk bisa meraih Crazy Vision saya.

13161680_10207641139645055_7433409285428291004_o
Brian Tyler saat konser kemarin hanya menggunakan kaos warna hitam lengan pendek. Foto ini saya ambil dengan kondisi baterai HP yang tinggal 3%. Oiya, foto ini di ‘Love’ oleh Brian Tyler di Instagram saya. 🙂

cruise tyler
Kemarin Tom Cruise juga ikut nonton di RFH!

 

Research – Behind The Scene

Sudah lama saya gak ngeblog. Kali ini saya mau cerita sesuatu yang lebih menarik tentang riset saya. Jadi kalau kalian gak tertarik dengan riset, mungkin bisa baca cerita saya ini supaya merasa tertarik. Hehe..

Riset itu punya seluk beluk yang cukup kompleks dan banyak cerita di baliknya. Sayang tidak banyak kisah yang diangkat ke publik. Memang kebanyakan ilmuwan tidak mengkomunikasikan hasil riset mereka ke publik meski sebenarnya khalayak ramai adalah end usernya. Nah untuk itu, saya akan coba menceritakan bidang riset saya yang merupakan 1 dari sekian puluh juta hal yang diteliti di dunia ini.

Jujur ya, dari awal saja sudah banyak orang yang tidak paham apa itu Teknik Material atau Teknik Metalurgi. Padahal istilah Material atau Metalurgi adalah istilah yang paling general dari berbagai macam turunan ilmunya. Jadi, ilmu Material (Material Science) itu adalah salah satu bidang dasar dari IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Ilmu Material ini bisa dikategorikan sebagai percabangan ilmu fisika dan kimia. Ilmuwan Material (Materials Scientist) itu adalah orang-orang yang mempelajari atau menginvestigasi sifat alamiah (sifat fisik dan sifat kimiawi) materi di dunia ini. Nah, Ilmu Material ini punya anak namanya Teknik Material (Materials Engineering). Materials Engineer ini kerjaannya adalah mengeksploitasi sifat natural dari material (plastik, logam, keramik) agar lebih berguna di masyarakat. Sedangkan Teknik Metalurgi adalah sebagian dari Teknik Material karena hanya berkutat dengan material Logam.

Saat ini keilmuan material dan metalurgi, baik dipandang dari sisi science maupun engineering sudah sangat sulit dipisahkan satu sama lain. Cabang ilmu Metalurgi/Material dan ditambah dengan cabang ilmu lainnya sudah menghasilkan ribuan cabang ilmu, misalnya nanomaterial, biomaterial, dsb. Continue reading

Food and Eating in Indonesia from a Westerner’s perspective

I found this hilarious yet accurate writing about Indonesian food and eating habit. Please enjoy! 😀

——————

If you eat in Indonesia, you eat rice. Rice is the central part of any meal. You can eat noodles or a variety of other starches like cassava or even potatoes, but it’s not a real meal without rice. In fact, the phrase ‘makan nasi,’ meaning to have a meal, translates literally to eat rice. A meal can be just about anything with rice. You’ll see a lot of fried chicken and a lot of fish, as these make up the bulk of the animal protein that’s commonly eaten on a day-to-day basis, at least on the main island of Java. A lot of vegetables are eaten, either fried or boiled and served in their broth; these can always be poured over the rice and eaten with a spoon.

Seafood in Indonesia is wonderful. Fish, both freshwater and from the sea, is plentiful and widely available, as is crab, shrimp, mussels, prawns, squid (cuttlefish), octopus and eel. These are cooked in a variety of ways and all are usually served with rice. Note that almost everything will have some bite to it, as chili peppers are used in almost all cooking and can be quite spicy for people from some parts of the world, but not nearly as spicy as Thai cuisine. As well as chili paste, chili sauce or just raw chili peppers will be served along with the meal; you can either just eat your food on medium spicy or you can try to raise blisters on your tongue. Some food and sauces can be extremely hot, so if you’re not accustomed to it, take it in moderation at first-eventually you will build a tolerance and learn to love the heat. Continue reading

Dian Pelangi, Khanaan Shamlan, dan Pekalongan

I’m so proud of Dian Pelangi! Postingan pertamanya di Instagram setelah fashion show nya di London Fashion Week bawa-bawa nama Pekalongan! Haha…

Screen Shot 2016-02-20 at 22.16.55

Sebagai orang Pekalongan yang tinggal di Inggris, saya ikut berbahagia atas salah satu pencapaian Dian Pelangi di negara ini. Bisa ikut LFW adalah sebuah langkah besar bagi disainer2 di dunia ini. Saya sudah menunggu dari dulu agar Indonesia bisa setidaknya unjuk gigi di dunia fashion internasional karena kerajinan tekstil kita luar biasa ragamnya. Alhamdulillah saya melihat salah satu impian saya untuk bangsa ini direpresentasikan oleh seseorang yang berakar fashion dari kota asal saya (note : DP lahir di Palembang, tapi pernah sekolah di Pekalongan dan sampai saat ini orang tuanya masih di Pekalongan).

Selain Dian Pelangi, Pekalongan juga melahirkan seorang disainer bernama Khanaan Shamlan. Khanaan masih sama mudanya dengan Dian Pelangi dan busana rancangannya juga luar biasa cantik. Alhamdulillah kemarin waktu saya menikah, saya bisa memakai busana rancangan Khanaan. Khanaan ini bisa saya bilang secara karier masih ‘adiknya’ Dian Pelangi. Kalau di Jakarta, Khanaan sudah cukup terkenal. Bahkan busana rancangannya sudah dipakai oleh artis-artis Indonesia semacam Dewi Sandra, Laudya Chintya Bella, Okky Asokawati, Ayu Ting-Ting, dll. Untuk urusan Go International pun Khanaan juga pernah ikut menampilkan rancangannya di Heya Fashion, Qatar. Continue reading